ISLAM will dominate the WORLD

Kemenangan Itu Pasti
Banyak dalil-dalil syar'i menyebutkan bahwa kemenangan bagi umat Islam pasti terwujud. Baca misalnya beberapa ayat berikut:

"Sesungguhnya kami akan menolong rasul-rasul kami dan orang–orang yang beriman di dunia dan hari akhir" (Q.S.Ghâfir: 51). "Dan merupakan hak kami untuk menolong orang-orang yang beriman" (Q.S. Ar-rûm: 47). "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu".(Q.S Muhammad: 7).

Rasulullah pun menegaskan kembali dalam sabdanya: "Tidak datang kiamat hingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi, sehingga orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai orang muslim, ini orang Yahudi di belakangku, kemarilah bunuh dia, kecuali pohon Gharqad karena ia termasuk pohon orang Yahudi".

Adalah mustahil kita mengatakan bahwa Allah tidak konsisten dengan semua janji-janjiNya. Lantas, apa sebenarnya arti An-Nasr wa At-Tamkîn dalam Al-Quran tersebut? Sekiranya kita menghayati nash-nash kepastian kemenangan bagi umat Islam, niscaya kita akan melihat bahwa nash-nash tersebut berkisar pada dua aspek utama: Pertama, bahwa pertolongan Allah itu terikat dengan usaha kaum muslimin dalam menolong agama Allah. Kedua, memberikan kabar gembira akan datangnya kemenangan dan kekuasaan di hari mendatang.

Memang benar, berbagai jamaah bermunculan, tak ada yang membantahnya kecuali orang-orang yang sombong. Lantas, apa karena itu kita harus berputus asa, kemudian memilih 'uzlah dan meninggalkan amal fi sabilillah? Tentu saja sikap seperti ini tidak dibenarkan dengan beberapa konsideran sebagai berikut:

- Allah menyuruh kaum muslimin untuk berpegang teguh pada tali Allah dan melarang berpecah belah (Ali Imran: 103). Tentu ada faktor yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan, maka kita harus menyingkirkan faktor tersbut. Jika faktor itu terkait fikrah, maka seyogyanya para cendekia dari setiap jamaah bisa duduk bersama untuk menyamakan dan menyatukan fikrah. Jika hal itu tidak memungkinkan, sementara perbedaan (ikhtilâf) tersebut tergolong ke dalam ijtihâd fiqhiyyah, maka hendaknya beramal dengan perkara-perkara yang disepakati, dan bersikap toleran terhadap permasalahan yang masih di perselisihkan itu. Namun jika perbedaan tersebut masuk ke dalam wilayah akidah, maka kita kembalikan kepada kitab Allah dan RasulNya.

Jika faktor penyebab perselisihan itu adalah manhaj (metodologi), maka seyogyanya para konseptor masing-masing jamaah berusaha bertemu untuk saling memahami dalam satu kordinasi (tansîq baina al-jamâ'ât). Setiap jamaah beramal pada wilayah stressing-nya tanpa harus menjatuhkan yang lain. Yang penting ada kesepakatan antara semua pihak untuk mewujudkan eksistensi politik Islam.

- Sejarah Islam telah membuktikan bahwa pernah terjadi perbedaan pandangan dalam masalah politik dan fiqh pada masa lalu antar umat Islam, namun demikian persatuan mereka tetap terjaga. Merupakan bukti terbesar bahwa tafâhum dan kejernihan hati bisa mewujudkan itu semua. Nabi pernah mempersatukan 'Aus dan Khazraj, dua kabilah besar di Madinah yang sebelumnya selalu bertikai. Sahabat Hasan bin Ali ra. rela melepaskan hak kekhilafahan kepada sahabat besar Muawiyah bin Abi Sufyan demi menghindari timbulnya fitnah perpecahan yang lebih besar, sehinga kaum muslimin di pemerintahan Bani Umayyah kembali jaya dan kokoh.

Di awal perjuangan Rasul, kita mengenal dua istilah peristiwa populer, yaitu ghazw al-Badr wa ghazw al-Uhud. Dua nama ini adalah bagian dari deretan peperangan yang mewarnai perjuangan kaum muslimin. Melalui dua medan peperangan ini, seolah Allah SWT. ingin memberikan sebuah materi kuliah exstra yang amat berharga kepada umat Muhammad akan hakikat sebuah kehidupan. Bahwa kehidupan di dunia bukan berjalan dengan sendirinya atau rekayasa umat manusia. Di balik semuanya ada Dzat Yang Maha Menentukan segala sesuatu.

Menurut analisa pakar militer termodern, seharusnya perang Badr seharusnya berakhir dengan kemenangan kaum musyrikin Mekah. Analisa ini sangat rasional, melihat jumlah, persiapan, dan persenjataan pasukan musyrikin yang jaun lebih besar. Pasukan muslimin sejak awal tidak membayangkan akan terlibat dalam peperangan dahsyat itu. namun, sutradara kehidupan dunia tetaplah Allah SWT. Dia memiliki rencana mutlak untuk makhluknya yang bernama manusia, bahkan malaikat pun tidak tahu. Pasukan muslimin mampu meraih fath dan membuat musuh harus menerima kekalahan telak, dengan menanggung korban yang tidak sedikit.

Berbeda dengan perang Uhud. Dalam perang ini pasukan muslimin sudah di ambang kemenangan besar. Namun karena satu hal prinsipil yang tidak dihiraukan oleh sebagian pasukan Islam, hingga meyebabkan mereka harus menerima kekalahan pahit.

Apa rahasia di balik peristiwa Badr dan Uhud? Dari dua peristiwa besar ini, kita sesungguhnya dapat menyerap sebuah SMS Ilahi sebagai berikut: Allah berfirman:"Inna NashraLlâhi Qarîb, Wa inna wa'daLlâhi Haq". Jaminan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah terhadap hambanya yang shalih itu pasti. Sah saja yayasan "Bait Az-zakât" ketika membuka pendaftaran beasiswa menyertakan beberapa syarat yang harus di penuhi sebelumnya. Seperti: tidak merokok, nilai minimal jayyid dll. Begitupun dalam fiqh kemenangan, jika syarat-syarat kemenangan yang ditentukan Allah telah dipenuhi oleh umat Islam, pasti kemenangan itu akan terwujud. Wallâhu a'lam

Petikan Kolumnis

Mahasiswa Pasca Sarjana Universiti Al-Azhar, Kairo

Fakulti Usuluddin, Jurusan Hadith




Buku Bacaan :

1. Fiqh An-Nashr Wa At-Tamkîn Fi Al-Qurân Al-Karîm, Dr. Ali Muhammad Shawabi

2. Asy-syabâb Al-Muslim Fi Muwâjahati At-Tahaddiyyât, Dr. Abdullah Nasih 'Ulwan