Ada Apa Dengan Islam?



Sudah 24 tahun berlalu , sebaik sahaja saya dilahirkan, abah terus mengazankan dan mengiqamahkan di telinga saya.

Saya terus dibesarkan dalam didikan penuh dengan nilai keagamaan.

Namun, hal itu rupa-rupanya membuatkan saya sering menilai kehidupan beragama ini dari sudut tanggungjawab semata-mata.

Setiap hari kena solat 5 waktu. Berbuih mulut mak bertanya, "dah sembahyang ke belum?"

Bulan puasa, letih mak kejut bangun sahur dan macam-macam lagi nostalgia 'liat dan culas' semasa kanak-kanak.

Mengimbau lebih 1400 tahun yang lalu, terkenang kepada perjuangan baginda Rasulullah s.a.w. yang tiada putus ujian dan dugaan yang diberikan kepada baginda.

Hairannya, Allah s.w.t. secara jelas memaklumkan tentang kasih-Nya kepada baginda, namun, kekasih-Nya itu dibiarkan hidup penuh ranjau dan duri.

Diancam bunuh, dibaling dengan batu, kelaparan, hidup dalam bilik yang kecil, berdepan dengan pedang musyrikin... semua itu adalah rencam kehidupan seorang kekasih Tuhan!

Dalam kehidupan yang nyawanya seperti telur di hujung tanduk, seorang sahabat baginda pernah menyarankan supaya baginda mendoakan keburukan untuk orang musyrikin. Namun, apa jawab baginda?

"Sesungguhnya aku tidak diutuskan untuk melaknat (orang lain). Aku hanya diutuskan sebagai rahmat" (Riwayat Muslim).

Allah akbar!

Bilakah kali terakhir kita tidak mencerca rakan muslimin kita? Bilakah kali terakhir kita tidak menghina bos kita? Bilakah kali terakhir kita tidak mengutuk ahli keluarga kita?

Oh! Sudah tentu masih boleh diingati, kerana baru je sekejap tadi kita mengata mereka!

Astaghfirullah al-'azim...

Rasulullah s.a.w. diuji dengan ujian yang jauh lebih berat dari kita, namun baginda sama sekali tidak mahu mendoakan sesuatu yang buruk kepada mereka.

Malah baginda tetap mengharapkan agar hidayah Allah s.w.t. akan dilimpahkan kepada mereka.

Islam adalah agama rahmat. Agama yang penuh kasih sayang.

Agama yang mengajak kepada keharmonian. Agama yang penuh tolak ansur.

Agama yang mementingkan pembentukan maslahat dalam syariat.
Islam bukan hanya semata-mata solat dan puasa. Islam lebih dari itu. Islam ialah syariat yang terindah.

Tahun berganti tahun. Siang berganti malam. Umurku sudah meningkat usia seiring dengan kematanganku. Daku berdoa semoga ilmu dan kelebihan yang aku ada dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk berbakti kepada agama yang mulia ini. Semoga kawan-kawan yang mengunjungi blog ini juga sedikit sebanyak dapat mengambil pengajaran seterusnya bermuhasabah untuk menjadi MUkmin Profesional di abad ini.INSYAALLAH.

Taqwim Hijrah Lebih Sahih


Penanggalan Lunar Year dimulai dari Gerhana Surya dengan pengetahuan bahwa sorenya pasti ada Hilal Bulan di ufuk barat. Sekiranya tanggal 1 Muharram, yaitu bulan pertama, bertepatan dengan tanggal 21 Maret atau 22 September pada abad 20 Masehi, tentulah terjadi gerhana penuh di tempat tertentu pada ekuator Bumi. Hal ini memang telah berlaku pada tanggal 21 Maret 1901 waktu mana Umbra atau gerhana penuh terjadi. Kemudian 1 Muharram tercatat tanggal 20 Maret 1935 dan tanggal 19 Maret 1969, waktu itu terdapat Penumbra atau gerhana tidak penuh di Sumatra Tengah, tegasnya di Bukit Tinggi, dan hal itu juga menjadi bukti bahwa Bumi dalam orbit ovalnya keliling Surya melalui garis zigzag atau melenggang ke utara dan ke selatan garis Ekliptik sesudah topan Nuh sampai kini.

Karena itulah garis Umbra gerhana penuh pada tanggal 23 Desember sampai dengan 21 Juni melengkung arah ke utara permukaan Bumi karena waktu itu Bumi bergerak ke selatan garis Ekliptik keliling Surya, lalu bayangan Bulan tampak bergerak ke utara. Sebaliknya jika gerhana itu berlaku pada tanggal 22 Juni sampai dengan 22 Desember, Umbra tampak melengkung arah ke selatan selaku bayangan Bulan karena waktu itu Bumi bergerak ke utara.


Namun gerhana Surya pada tanggal 21, 20, 19 Maret tadi telah kita pergunakan selaku bahan penyusunan Kalender Nuclear untuk satu abad Hijriah dan Masehi, diterbitkan lalu diedarkan pada masyarakat umum. Dengan perhitungan atas orbit Bumi dan orbit Bulan sebagai di atas tadi, kita memperoleh ketentuan bahwa:

1. Ramadhan memiliki 29 hari tetapi 30 hari pada tahun ketiga, atau seperti yang dicatatkan di
bawah.

2. Satu tahun Qamariah terdiri dari 354 hari, tetapi 355 hari pada tahun ketiga.
Bilamana tercatat tanggal 1 Ramadhan hari Senen maka tanggal 10 Zulhujah hari Ahad pada tahun tersebut. Tetapi jika Ramadhan terdiri dari 30 hari maka tangal 1 Ramadhan dan tanggal 10 Zulhijah berlaku pada hari bersaman.

3. Di bawah ini disusunkan Kalender Lunar Year dari tahun 1351 sampai dengan 1450 Hijriah.
Ramadhan terdiri dari 29 hari, tetapi pada angka tahun didahului tanda tambah (+) Ramadhannya 30 hari, dan Syawal, Zulkaedah, Zulhijah tahun itu dimundurkan satu hari:

Di bawah ini dimuatkan pula Kalender solar Year dari th. 1920 sampai dengan 2020 Masehi, angka tahun yang didahului tanda silang (x) maka Februari-nya terdiri dari 29 hari, dan kolom Januari dan Februari-nya juga ditandai dengan x.

sila klik http://myquran.com/forum/showthread.php/9136-Kalender-Islam-Lebih-Benar-Dari-Masehi%EF%BB%BF

Penanggalan Hijriah 1351 sampai dengan 1450 dan penanggalan Masehi 1920 sampai dengan 2020 di atas dapat dijadikan berhadapan dalam satu halaman di mana kolom
N U C L E A R memberikan keterangan tentang nama hari pada setiap bulan.

Adakah ayat suci yang menganjurkan manusia memakai penanggalan Qamariah ?

Alquran memberikan hal-hal yang logis yaitu yang sesuai dengan pertimbangan dan pemikiran wajar, ini disebut kan pada berbagai ayat di antara lain pada 3/60. Alquran mengandung pokok keterangan bagi seluruh persoalan, dinyatakan pada ayat 16/89, hanya manusia juga yang belum sesungguhnya dapat mengambil dan memakaikan seluruh keterangannya. Mengenai penanggalan secara spontan Alquran memberikan anjuran sebagai dimaksudkan di bawah ini :

[FONT=Book Antiqua]
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ
تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
9/36. Bahwa bilangan bulan-bulan pada Allah ialah dua belas bulan pada ketetapan Allah atas hari (tatasurya)
yang DIA ciptakan planet dan Bumi. Dari pada bulan-bulan itu ada EMPAT bulan Mulia. Itulah agama yang kukuh,
maka janganlah menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu, dan perangilah orang-orang musyrik seluruhnya sebagaimana
mereka memerangi kamu seluruhnya, dan ketahuilah bahwa Allah itu bersama orang-orang yang insyaf.

Rangkaian ayat suci di atas ini secara jelas menerangkan bahwa penangalan yang berlaku dan yang harus dipakai di seluruh kehidupan dalam daerah tatasurya ini adalah penanggalan Qamariah di Bumi. Pergantian musim nyata semakin pendek waktunya, dan kalau orang memakai penanggalan musim pula di Jupiter misalnya maka satu tahun di sana adalah sebelas tahun dl Bumi karena selama itu pula masa pergantian musirn di planet itu. apalagi kalau di Saturnus yang satu musimnya berlaku selama 29 tahun di Bumi.
Penanggalan Qamariah di Bumi mungkin banyak faedahnya terutama sewaktu telah berlangsung penerbangan antar planet. Satu-satunya planet yang memilik SATU BULAN hanyalah Bumi ini saja maka karenanya praktislah penanggalan Qamariah di Bumi dipakai untuk daerah tatasurya kita ini. Sebentar lagi terwujudlah hubungan antar planet itu sebagai realita dari maksud ayat 10/6 tadi dan sesuai dengan ayat 65/12, karenanya hendaklah orang membiasakan diri dengan maksud ayat 9/36 di atas tadi.

rujukan: laman sesawang myQuran Komunitas Muslim Indonesia

Doa Akhir & Awal Tahun Hijrah 1432


ZIKR - Berkorban Apa Saja (HQ Audio With Lyric)_M1

Makna Disebalik Ungkapan Korban


Hari ini 10 Zulhijjah 1431 Hijrah bersamaan 17 November 2010 seluruh umat Islam di Malaysia serta kawasan-kawasan yang sewaktu dengannya telah menyambut Hari Raya Haji @ Korban @ Adha. Di kesempatan ini, aku ingin memesan buat diriku serta saudara maraku muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah s.w.t

- kita Umat Islam amat digalakkan untuk bertakbir pada 10-13 Zulhijjah ini.
- menyembelih korban pada hari raya dan hari-hari tasyrik
-ziarah-menziarahi saudara mara serta jiran tetangga

Anas bin Malik r.a berkata:“Nabi s.a.w pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya yang mana mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah pada kedua-dua hari itu. Lalu baginda berkata: Aku datang kepada kamu semua sedangkan kamu memiliki dua hari (raya) yang menjadi medan permainan kalian pada masa jahiliyyah. Sabdanya lagi: Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-dua hari itu dengan yang lebihbaik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” - Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunannya, no: 959.

Jika di tanah air (Malaysia) umat Islam mengorbankan binatang yang halal untuk dikorbankan, manakala di Baitullah (Makkah) umat Islam berkumpul di tanah suci menyahut panggilan Haji yang mulia serta memenuhi tuntutan RUKUN ISLAM yang ke-5. Alhamdulillah besar sungguh syariat dan hikmat yang tersirat di sebalik peristiwa ini. Bersyukur kepada Allah Rabbul Izzati yang telah mengurniakan kita lahir sebagai 'Umat Islam' yang terpilih untuk menunaikan Ibadah Haji.

Peristiwa ini amat besar erti ungkapannya jika kita hayati secara terperinci dan mendalam. Korban itu besar dan tinggi darjatnya bagi sesiapa yang berjaya menempuhinya.

Ketentuan/Bala Allah


BANJIR DI SEKITAR UTARA SEMENANJUNG MALAYSIA :KEDAH & PERLIS OKTOBER 2010



FENOMENA LETUSAN GUNUNG MERAPI DI YOGYAKARTA OKTOBER 2010

Membezakan antara ketentuan/bala dari Allah dan perancangan dari manusia.

Fikirkan bersama:

Umumnya kita mengetahui bahawa negara kita terletak dalam zon Khatulistiwa dan tropika yg sememangnya akan menerima hujan yang banyak setiap tahun. Bahkan kita akan gelisah jika hujan tidak turun untuk tempoh yang agak panjang.

Bila berbincang soal banjir saya teringat pengalaman pergi ke Jepun dan kaitannya dengan banjir. Ada satu sungai di Jepun yg akan saya lintasi setiap hari untuk ke tempat latihan. Sungai itu sangat besar sekira2 40-50 langkah kaki untuk melintasinya. Dalamnya kira2 kedalaman 2-3 tingkat bangunan. Yg menariknya kira2 70% daripada sungai tersebut kering kontang dan hanya 20-30% dari lebar sungai tersebut yg mempunyai air yg mengalir. Itupun airnya tidak dalam. Sy kira mungkin setakat paras pinggang saya atau lebih sedikit. 70% lagi kering dan boleh dilalui oleh pejalan kaki kerana dasarnya nampak berbatu kerikil. kedua2 tebingnya berbatu (mungkin utk mencegah runtuhan tanah)

Musim hujan di Jepun ialah antara Jun dan Julai semasa peralihan dari musim bunga ke musim panas. Pada musim hujan sungai tadi tidak pun dipenuhi air. Secara umumnya 100% dari kawasan dasarnya diliputi air yang mengalir tetapi pada kedalaman yg sangat cetek. Mungkin setakat paras pinggang saya sahaja atau kurang dpd itu.

Pernah juga saya terfikir, bilakah agaknya sungai ini akan penuh sedangkan pada musim hujan lebat pun ia hanya memenuhi sekitar5-10% dari kedalaman sungai? Setelah lama memerhati barulah saya perasan bagaimana mereka memastikan sungai mereka boleh menampung hujan lebat yg sangat lebat dan mereka masih mempunyai lebihan(buffer) kawasan dalam sungai yang besar dan boleh menampung kadar hujan luarbiasa bahkan hujan yang tersangat luarbiasa pun masih boleh ditampung oleh sungai.

Di Malaysia, sungai kita hanya mempunyai lebihan beberapa meter dari tahap penuh untuk menampung hujan lebat. Jika hujan lebat melebihi kadar biasa sahaja pun sudah cukup untuk memenuhkan sungai. Sedikit luarbiasa sudah cukup untuk menyebabkan banjir kilat. Luar biasa lebat akan terus menyebabkan banjir hingga rakyat perlu dipindahkan ke pusat pemindahan sementara. Ini menunjukkan perancangan kita masih lemah dan tidak mengambilkira jumlah hujan yang banyak.

Soalan yang kita perlu tanya bila berlaku banjir ialah adakah paras air laut ikut tinggi semasa hujan lebat berlaku. Jika kawasan pantai tidak banjir selagi itulah kita boleh beranggapan sistem saliran kita tidak cukup bagus. Kalau air laut sedang pasang sekalipun, itu adalah kitaran alam yg sememangnya telah kita ketahui dan tak sepatutnya dijadikan alasan. Semua faktor itu sepatutya telahpun diambilkira dalam merancang sistem perparitan.

Semasa banjir di Johor pada tahun 2007 yg menyaksikan Kota Tinggi tenggelam 2 kali, sy pulang ke Batu Pahat. Seperti biasa sy akan ke pasar nelayan untuk membeli ikan di tepi pantai berhampiran Simpang Lima. Dalam perjalanan ke pantai sy melalui kawasan banjir tetapi bila sampai di tepi pantai saya dapati air laut sedang surut dan paras air laut sangat rendah.

Itu jelas menunjukkan sistem saliran yang tidak dijaga sebagai punca banjir, bukannya bala sebenar dari Allah. Tapi disebabkan kesilapan/kelemahan manusia, hujan yang lebih sedikit sudah menjadi bala. Tapi alasan mudah yang disogokkan pada telinga rakyat ialah hujan terlalu lebat.

Bukankah bumi Malaysia itu bumi yang dirahmati dengan hujan yang banyak? Tugas manusia ialah merancang sebaiknya dalam mengurus kurniaan Allah tersebut bukannya melakukan kesalahan mentadbir dan menyalahkan kurniaan hujan dari Allah.

Tahun lepas salji lebat turun dibumi United Kingdom sehingga menyebabkan lapangan terbang Heathrow ditutup untuk penerbangan. Ramai rakyat Britain yg mengatakan peristiwa itu memalukan Britain seolah2 itulah kali pertama salji lebat turun di bumi UK. BBC UK secara 'perli' menyiarkan dokumentari bagaimana Norway yang terkenal dengan salji tebal tidak pernah mengalami peristiwa penutupan lapangan terbang.

Jika pengurusan kita masih ada kelemahan akuilah dan perbaiki. Selagi kita menyalahkan keadaan dan cuaca selagi itu kita tidak akan dapat memperbaiki keadaan yang ada. Takkanlah kita nak jadi negara maju yang sering banjir.

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar pada hari kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (surat 22 ayat 1 sampai 2)

Maksud bencana dan musibah adalah pergiliran kepada manusia, dan sebagai batas manusia agar manusia tidak menyombongkan diri dan membanggakan diri, ketika bencana dan musibah datang bukan karena seseorang atau ritual seseorang:
(Al-quran surat Al-hadiid:23) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.


TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Letusan gunung Merapi kali ini benar-benar luar biasa. Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Miner R Sukhyar letusan Merapi 2010 ini adalah yang terbesar dan terburuk. “Terbesar setelah Galunggung 1982, penduduk Merapi tidak pernah merasakan letusan semacam ini dalam jangka waktu 100 tahun terakhir,” ujar Sukhyar di Yogyakarta, Jumat (5/11).

Letusan Gunung Merapi kian mengganas. Merapi mencatatkan rekornya dalam meluncurkan awan sejauh 15 kilometer dari Puncak Merapi menuju Cangkringan yang berjarak 15 kilometer dari Puncak Merapi.
Luncuran awan panas sejauh ini tercatat paling besar sejak letusan pertama pada 26 September lalu. Tidak hanya itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Sumber Daya Mineral, Surono mencatat jarak luncuran awan panas pada luncuran awan panas letusan Gunung Merapi terbesar yang pernah terjadi. Pada hari ini, seluruh sekolah di Yogyakarta diliburkan, Bandar Udara Adi Sucipto ditutup, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dialihkan ke Solo dan Semarang.

sumber : Ghazali Haji Abu 6 Nov 2010 , http://thephenomena.wordpress.com/2010/11/07/penampakan-lafal-allah-pada-letusan-gunung-merapi/




PRK N-45 Galas Kelantan


Sokongan penentu survival Islam di Kelantan

POHON HIJAU ITU


[00:08.00]Pohon hijau itu berdiri kaku
[00:36.89]Pohon hijau itu berdiri kaku
[00:21.98]Megahnya di celah pohonan
[00:44.09]Ibarat lukisan hidup
[00:51.90]Tetap tegak dan kaku

[00:59.78]Pohon hijau itu tetap kaku
[01:14.82]Lantas desiran kedengaran
[01:22.00]Amat sayup dan sayu
[01:28.69]Ia mula bergerak

[02:10.09]Pohon hijau itu tidak kan kaku lagi
[02:14.22]Beralun mengikut tarian bayu
[02:18.91]Pohon hijau itu melambai-lambai
[02:23.33]Beralun mengukir kehijauan

[02:27.59]Begitulah diibaratkan
[02:31.93]Dunia dengan kehidupan
[02:36.29]Bermulanya di daratan
[02:40.90]Kini menuju ke tengah lautan

[02:45.33]Angin yang menderu
[02:50.33]Datang tak menentu
[02:54.77]Ombak memukul pelayaran
[02:58.73]Apakan tergoyang keimanan

[03:03.64]Untukmu teman bajailah hidupmu
[03:12.52]Sirami hatimu dengan ketaqwaan
[03:16.58]Dalam mencari keredhaan Tuhan

[03:23.47]Hati-hati teman
[03:26.23]Meniti salju kehidupan
[03:28.43]Nan rapuh bisa cair dan runtuh

[03:32.92]Bersama angin lalu kutitipkan harapan
[03:37.42]Agar terus tabah hadapi cabaran

[03:42.28]Pohon hijau itu yang dulu kaku
[03:46.64]Kini mengikut tarian bayu
[03:50.99]Pohon hijau itu melambai-lambai
[03:55.60]Beralun mengukir kehijauan

[03:59.95]Pohon hijau itu tidakkan kaku lagi
[04:05.03]Beralun mengikut tarian bayu
[04:08.83]Pohon hijau itu melambai-lambai
[04:13.52]Beralun mengukir kehijauan

[04:17.90]Bila kejayaan sudah digenggaman
[04:22.96]Ingat-ingat teman kita kan pulang

[04:32.03]Pohon hijau itu kini kaku
[04:46.85]Ia tak bergerak lagi
[04:53.57]Ia pastikan layu
[05:01.79]gugur di taman ini
[05:09.55](ending)

Album :
Munsyid : Brothers
http://liriknasyid.com

PILIHAN RAYA DAN KEIZINAN SYARA’

MUQADDIMAH

Persoalan tentang keharusan memilih wasilah pilihan raya u...ntuk menegakkan daulah Islamiah merupakan antara polemik umat yang masih wujud hingga kini. Memandangkan tiada nas qat’ie yang menegah daripada memasuki pilihan raya, maka perkara ini bersifat ijtihadi ‘amali. Oleh itu ia membawa kepada lahirnya golongan yang berpandangan boleh menyertai pilihan raya, dan dalam masa yang sama wujud juga golongan yang menolak kaedah ini dengan dalil dan alasan masing-masing.

Melalui penulisan ini, penulis cuba mengutarakan beberapa pelepasan syarak (yang membolehkan kita memasuki pilihan raya, di samping membentangkan syubhat-syubhat yang wujud dan penolakannya serta mauqif beberapa gerakan Islam seluruh dunia dan Ulama’ semasa mengenai persoalan ini.

DEFINISI

Pilihan raya merupakan satu proses memilih calon yang bertanding untuk menjadi ahli parlimen atau DUN yang merupakan institusi eksklusif dalam pemerintahan sesebuah negara yang mengamalkan prinsip demokrasi berparlimen.


PELEPASAN SYARA’ YANG MEMBOLEHKAN PENYERTAAN DALAM PIHAN RAYA (DALIL GOLONGAN YANG MENERIMA KAEDAH PILIHAN RAYA).

1. Kaedah usuliah : Hukum asal bagi sesuatu adalah harus (الأصل فى الأشيأ الاءباحة ). Memandangkan tidak ada nas qat’ie sama ada al-Quran atau as-Sunnah yang mengharamkan penyertaan dalam pilihan raya, maka hukum asal pilihan raya adalah harus.

2. Kaedah fiqhiyyah: ارتكاب اخف الضرربن -Memang tidak dinafikan menyertai pilihan raya boleh menimbulkan mudharat, tetapi menolak pilihan raya adalah lebih besar mudharat kerana membuka peluang besar kepada gabungan musuh Allah menguasai pemerintahan negara.

3. Pilihan raya merialisasikan beberapa tuntutan dan maslahah syariah mu’tabarah.
i. antara juzuk dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar.
ii. proses menegakkan pilihan raya secara muwajjahah silmiah.
iii. tarbiah jihadiah kepada anggota harakah Islamiah.

4. Boleh menggunakan idea atau sistem bukan Islam selagi mana tidak bercanggah dengan prinsip-prinsip asas Islam, tidak memudhratkan Islam, bahkan boleh menguntungkannya.
- sistem himayah / jiwar.
- Abdullah bin Uraiqit sebagai penunjuk jalan ke madinah dalam peristiwa hijrah.
- Tuntutan semasa yang realistik dan praktikal.


BEBERAPA SYUBHAT ( ALASAN-ALASAN GOLONGAN YANG MENOLAK WASILAH PILIHAN RAYA ) DAN PENOLAKAN KE ATASNYA.

SYUBHAT PERTAMA:

1. Terdapat beberapa ayat yang menegah daripada duduk bersama kuffar atau munafik, condong kepada golongan yang zalim atasnya: An Nisa’ (140), Al-An’am (68), Hud (113) dan Al-Isra’ (73).

*(sila rujuk ayat dan terjemahannya)

Ulasan ayat:
Realiti menunjukkan ahli parlimen (AP) sebahagiannya terdiri daripada orang kafir, munafik dan zalim sedangkan ayat-ayat di atas menegah daripada kita duduk bersama mereka. Maka menegakkan daulah Islamiah dengan cara bertanding dalam pilihan raya untuk menjadi AP adalah ditegah.


BIDASAN SYUBHAT 1.

Pertama : Ayat-ayat di atas kalau dirujuk kepada kitab-kitab tafsir, tidak menunjukkan larangan menyertai pilihan raya untuk menjadi AP, bahkan adalah sebaliknya. Sebagai contoh, ayat pertama (140: النسأ) jelas menunjukkan kita boleh duduk bersama mereka (orang- orang kafir / munafik / zalim) dalam membincangkan perkara-perkara yang dibolehkan dan kerana larangan hanya tertakluk kepada perkara-perkara yang mempersendakan ayat-ayat Allah dan mengkufurinya.

Realiti menunjukkan bahawa perbahasan tentang perundangan yang bercanggah dengan syara’ adalah terlalu sedikit berbanding perkara-perkara yang dibolehkan. Persidangan parlimen biasanya tertumpu kepada perlaksanaan kuasa eksekutif yang diagihkan melalui kementerian-kementerian, peraturan-peraturan, cukai, isu semasa, hubungan antara negara dan lain-lain yang tidak berkait dengan tegahan akta bahkan termasuk dalam hadis:
أنتم أعلم بأمور دنياكم

Berkata Al-Qurtubi dalam mentafsirkan ayat ini : setiap orang yang duduk dalam majlis maksiat sedangkan dia tidak mengingkari pihak yang melakukan maksiat tersebut maka dia turut berdosa seperti mereka. Maka hendaklah dia mengingkari mereka yang bercakap tentang perkara yang ditegah supaya tidak termasuk dalam golongan yang dinyatakan dalam ayat ini. (1)

Ayat-ayat yang lain juga berkaitan pada makna yang sama dengan ayat di atas. Pembaca sangat digalakkan untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang menyabitkan kebenaran yang penulis nyatakan.

Kedua : Kita tidak menolak berlakunya perbahasan tentang perkara-perkara yang bercanggah dengan syarak dan mempersendakan agama dalam persidangan parlimen, tapi bukankah ketika itu seorang ahli parlimen Muslim boleh keluar dewan sebagai menyatakan protes dan bantahannya terhadap perbahasan tersebut bagi menyahut seruan ayat-ayat di atas?
Ataupun manakah yang lebih aula; meninggalkan parlimen ataupun bangun bersuara dan menyatakan pandangan Islam yang sebenar dan mencegah kemungkaran tersebut? Bukankah perkara ini merealisasikan hadis: ….. من رأي منكم منكرا dan hadith …..
أ فضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

Di dalam pilihan raya calon yang bertanding dikehendaki membayar wang pertaruhan. Wang pertaruhan ini adalah berunsurkan judi dan Islam mengharamkannya dengan nas qat’ie. Maka tidak sepatutnya seorang muslim melibatkan diri dengan judi yang ditegah oleh Allah.


BIDASAN :

Takrif judi dalam Islam ialah sebarang perbuatan yang bertujuan memperolehi keuntungan, tanpa usaha yang selayaknya dan akan menyebabkan kerugian pada satu pihak ( m.s. 40 : 7/8 ( التفسير المنير : جزؤ
Di sana terdapat 3 aspek yang menunjukkan wang pertaruhan di dalam pilihan raya tidak termasuk dalam takrif judi menurut perspektif Islam iaitu :

i. Dalam pilihan raya walaupun pertaruhan dibayar tetapi usaha mesti dilakukan untuk memenanginya seperti berkempen, merayu undi, tampal poster dan lain-lain, sedangkan berjudi hanya bertaruh dan menunggu nasib sama ada menang atau kalah.

ii. Dalam pilihan raya, jika calon yang bertanding mendapat undi 1/8 atau lebih daripada jumlah pengundi setempat, maka wang pertaruhan akan dikembalikan walaupun dia kalah. Dalam judi pula tidak peluang untuk pihak yang kalah mendapat kembali wang pertaruhannya.

iii. Calon yang tidak mendapat 1/8 undi dalam pilihan raya akan hilang wang pertaruhan tetapi ianya tidak pula diberikan kepada calon yang menang. Sebaliknya SPR yang akan mengambilnya. Maka pihak yang kalah dalam judi pula terpaksa menyerahkan wang pertaruhannya kepada pihak yang menang.
*(kadar capaian undi untuk mendapatkan semula wang pertaruhan boleh berubah menurut peraturan yang ditetapkan oleh SPR)

Jadi jelaslah bahawa pertaruhan yang berlaku dalam pilihan raya tidak termasuk dalam takrif judi mengikut pandangan syara’


HARAKAH ISLAMIYAH YANG MEMILIH PILIHAN RAYA SEBAGAI ANTARA WASILAH MENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYYAH.

1. Ikhwan Muslimin di Mesir, tetapi mereka tidak bertanding atas nama pertubuhan mereka sebaliknya menggunakan platform Parti Buruh kerana maslahat tertentu.
2. Ikhwan Muslimin di Jordan.
3. Parti Refah di Turki.
4. Jamiah Islamiah di Pakistan.
5. FIS di Algeria
6. Parti Islam Se-Malaysia.
7. Masyumi di Indonesia

PENDIRIAN ULAMAK SEMASA TENTANG PILIHAN RAYA.

Berkata As-Syeikh Abdul ‘Ala Al-Maududi, Amir Jamiat Islami di Pakistan ;

Untuk merealisasikan perubahan dalam konteks negara republik, maka tidak ada cara lain kecuali melalui pilihan raya. Malalui wasilah ini kita dapat membentuk arus perdana umat dan menukar cara berfikir mereka kepada Islam supaya mereka mngenali calon-calon yang mendokong risalah Islam. Pada masa yang sama kita perlu mengislahkan wasilah ini dan menyucikannya daripada sebarang bentuk penyelewengan dan tipu daya.

Imam As-Syahid Hassan Al-Banna pula telah menyebutkannya dalam risalahnya mengenai sistem kenegaraaan dalam Islam : “Sesungguhnya kita telah menerima sistem berparlimen di barat dan sehingga kini kerajaan kita masih bernaung di bawahnya. Sistem ini menuntut para pemerintah dan rakyat sama-sama bertanggungjawab untuk melaksanakannya. Walaubagaimanapun sistem ini tidak bercanggah dengan konsep negara Islam. مجموعة رسائل الامام الشاهيد حسن البنا من رسالة نظام الحكم))

Difahami daripada kalam As-Syahid Imam Hassan Al-Banna, sistem parlimen adalah semata-mata wasilah yang perlu diislahkan supaya dapat digunakan untuk menuju kepada pemerintahan Islam. Sebab itulah beliau sendiri telah mencalonkan diri untuk menjadi ahli parlimen sebanyak 2 kali tetapi malangnya konspirasi mustakrimin tidak memberi jalan kepadanya.

As-Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti kerajaan Arab Saudi ketika ditanya tentang bolehkah mencalonkan diri untuk menjadi ahli parlimen dan apakah pandangan Islam tentang pemaparan pasta-pasta calon dengan tujuan untuk berkempen supaya menjadi calon-calon yang beragama, beliau menjawab : Bahawa nabi s.a.w. telah bersabda :{Sesungguhnya setiap amal adalah berdasarkan niat, dan setiap orang akan dibalas mengikut niatnya .} Oleh itu tiada halangan untuk menyertai parlimen dengan tujuan mendokong kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Ini adalah kerana perkara tersebut membawa kepada tertegaknya kebenaran dan memantapkan gabungan para pendakwah yang menyeru kepada Allah. Begitulah juga tidak salah mempamerkan pesta-pesta calon yang memang bermatlamat menegakkan kebenaran : (مجلة لوأ الاسلام ملف الانتخابات العدد الثالث ذوالقاعدة 1309 م )

Adapun Dr Yusuf Al Qardawi menekankan keharusan menjadi ahli parlimen dan terlibat dengan sistem demokrasi katanya : Dalam konteks merealisasikan wasilah politik semasa datang berterusan dan berkembang mengikut iklim dan suasana setempat, maka dibolehkan untuk menggunakan mana-mana wasilah sama ada berbentuk perkumpulan, pengajian, kerjasama dan lain-lain yang boleh membawa kepada kemaslahatan dan ketinggian Islam dan umatnya.

Pada bahagian yang lain pula Dr Yusuf Qardawi mengatakan : “Saya sangat terkejut apabila membaca surat yang ditulis oleh golongan yang bersemangat yang mengatakan : Penyertaan dalam parlimen adalah bercanggah dengan konsep tauhid.”

Sebenarnya ini merupakan kesilapan yang nyata kerana mereka memasukkan/ menyamakan masalah amal dengan masalah aqidah. Sedangkan persoalan amal berlingkar antara benar atau salah dan bukannya antara Iman dan kufur. Ia adalah termasuk dalam siasah syariah yang mana mujtahid-mujtahid yang betul dalam ijtihadnya akan diganjari dengan 2 pahala, dan sekiranya salah akan memperolehi satu pahala ( من فقه الدولة في الاسلام : للدكتور يوسف القرضوى)

Yang terakhir penulis suka merakamkan pandangan Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang dalam masalah ini. Kata beliau “memandangkan sistem demokrasi barat diterima pakai di Malaysia, di mana setiap lima tahun pilihan raya umum akan dijalankan untuk rakyat memilih kerajaan pilihan mereka, maka PAS telah memilih untuk menyertai pilihan raya atas dasar ‘muwajahah silmiah’. Pilihan raya merupakan satu wasilah untuk menegakkan pemerintahan Islam sekaligus menyeru umat Islam merealisasikannya. Ia juga merupakan penunaian konsep ‘amar ma’ruf nahi mungkar’ dengan jalan seafdhal-afdhal jihad iaitu ‘perkataan yang benar di hadapan pemerintahan yang zalim’-(Hadith). Walaupun ada golongan yang tidak memahami hakikat wasilah ini dan ada juga yang menolaknya kerana kecetekan pemahaman mereka, tetapi PAS berpandangan ianya merupakan pendekatan terbaik seperti mana juga yang telah dilakukan oleh gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia. Memandangkan tiadanya nas-nas sorih yang memerintah atau menegahnya, maka persoalannya adalah masalah ijtihadiah yang mengambil kira suasana politik setempat. Sesungguhnya perdamaian di sisi Allah dan rasulnya adalah lebih utama daripada peperangan dan keganasan. ( الصراع بين الاسلام والعلمنية فى مالزيا )

KESIMPULAN :

Setelah kita meneliti dalil-dalil, syubhat dan penolakan serta pandangan ulamak semasa tentang pilihan raya dan menyertai parlimen, maka jelaslah bahawa Islam membenarkan pendekatan ini untuk kita merealisasikan tertegaknya pemerintahan Islam. Bahkan dalam situasi tertentu ianya menjadi wajib seperti mana dalam konteks Malaysia dan Lubnan. Walau bagaimanapun perlu ditegaskan kita tidak beriman dengan sistem demokrasi tetapi kita memilih pendekatan ini setelah mempertimbangkan semasak-masaknya maslahah, mafsadah yang bakal diperolehi.

PENUTUP:

Penulis memohon keampunan daripada Allah s.w.t. sekiranya ada kesilapan-kesilapan yang berlaku dalam tulisan ini sama ada sengaja atau tidak disengajakan. Penulis juga amat berharap agar pembaca dapat memberi teguran dan membetulkan kesilapan-kesilapan sekiranya lahir demi menuju keredhoaan Allah s.w.t. Semoga Allah menerima amalan kita semua dan sesungguhnya Allahlah yang memberi taufik dan hidayah

http://www.facebook.com/notes/mohd-yusof-hadhari/pilihan-raya-dan-keizinan-syara/459338998392

Zulqarnain..Kisah Sejarah Islam

ZULQARNAIN, MODEL PENGUASA ADIDAYA
Oleh: Asep Sobari

Jika dicermati, pemaparan Al-Qur’an tentang kisah Zulqarnain sangatlah unik. Penguasa besar yang kerajaannya terbentang dari timur hingga barat ini diceritakan hanya dalam enam belas ayat (QS Al-Kahfi: 83-98). Itupun tanpa menjelaskan identitas lengkap, masa pemerintahan dan lokasi kerajaannya. Keunikan ini bukan tanpa alasan. Sayyid Quthb menjelaskan dalam azh-Zhilal, bahwa memang demikianlah karakter umum kisah-kisah Al-Qur’an. Tujuan utamanya bukan aspek kesejarahan, melainkan pelajaran (ibroh) yang dapat dipetik darinya.

Zulqarnain adalah penguasa Adidaya. Al-Qur’an menggambarkannya dengan singkat tapi jelas, “Sesungguhnya Kami telah memberinya kekuasaan di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan [untuk mencapai] segala sesuatu”. (QS Al-Kahfi: 84). Ayat-ayat berikutnya semakin mengukuhkan kekuasaan tersebut. Zulqarnain melakukan perjalanan jauh ke ujung barat dan ujung timur, lalu perjalanan jauh lainnya ke sebuah negeri asing. Lantas, apa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah penguasa besar ini?
Pertama; Asas peradaban Zulqarnain adalah ilmu. Menurut Ibn Abbas, seperti dinyatakan Ibn Katsir dalam at-Tafsir, as-sabab yang diberikan Allah kepada Zulqarnain adalah ilmu. Dengan ilmu inilah Zulqarnain meningkatkan kemampuan (al-qudrah) dan mengembangkan sarana (al-alah) sehingga mampu mencapai kemajuan-kemajuan besar dalam pemerintahannya.

Kedua; Menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan nilai-nilai wahyu. Falsafah hukum Zulqarnain adalah, menghapus kezaliman dengan menjatuhkan sanksi berat kepada pelakunya, dan memberi banyak kemudahan kepada orang-orang yang gemar kebaikan (QS Al-Kahfi: 87-88).

Kebijakan semacam ini sangat efektif dalam membangun kekuatan dalam negeri. Karena ketika orang-orang baik mendapat tempat, kemudahan dan balasan yang setimpal, sementara orang-orang zalim menerima sanksi, dipermalukan dan dijauhkan dari lingkaran kekuasaan, maka rakyat akan termotivasi untuk semakin baik dan produktif. Demikian yang diungkapkan Sayyid Quthb dalam azh-Zhilal.

Ketiga; Menjunjung kesetaraan, berbagi kemajuan, dan memakmurkan dunia dengan tetap bersikap rendah hati. Inilah prinsip kebijakan luar negeri Zulqarnain, terlebih lagi dengan negara yang lebih kecil dan lemah.

Dalam perjalanan ketiga, Zulqarnain tiba di sebuah negeri yang meskipun tampak indah dan kaya akan sumber daya alam, tapi masyarakatnya lemah dan terbelakang. Dikatakan lemah, karena mereka sering menjadi sasaran keganasan Ya’juj dan Ma’juj dan tidak berdaya untuk sekadar mempertahankan diri. Mereka juga terbelakang dalam banyak bidang, terutama budaya dan teknologi.

Ada dua indikator keterbelakangan yang dipaparkan Al-Qur’an. Pertama, mereka tidak menguasai bahasa Zulqarnain sehingga sulit berkomunikasi dengan penguasa besar tersebut, “la yakaduna yafqahuna qaula”. Padahal, sebagai penguasa peradaban dunia kala itu, bahasa Zulqarnain adalah bahasa internasional yang sangat populer. Kedua, ketika minta bantuan Zulqarnain untuk melindungi mereka dari Ya’juj dan Ma’juj, mereka hanya mengajukan pembangunan sebuah tembok biasa (as-sadd). Padahal saat itu Zulqarnain sudah menguasai teknologi konstruski tembok dengan meterial berlapis yang jauh lebih kuat (ar-radm).

Karena lemah dan terbelakang, wajar jika masyarakat ini memanfaatkan momentum kedatangan Zulqarnain, Sang Penguasa Adidaya, untuk mengiba dan memohon bantuan, agar dapat bertahan dan hidup lebih aman. Untuk memenuhi hajat asasi ini, mereka pun ‘nekat’ membayar jasa Zulqarnain dengan kekayaan alam mareka (al-kharj/al-kharaj).

Apa sikap Zulqarnain? Disinilah Zulqarnain menunjukkan kebesarannya sebagai penguasa adidaya. Dia menolak tegas bayaran tersebut. Baginya, kekuasaan tidak identik dengan keserakahan. Kelemahan dan keterbelakangan bangsa lain tidak dilihat sebagai kesempatan emas untuk mengeksploitasi dan mengeruk habis kekayaan alamnya untuk menunjang kesejahteraan negara maju. Bagi Zulqarnain, kekuasaan adalah amanah peradaban dari Allah swt yang manfaatnya harus dirasakan oleh seluruh penduduk dunia, “Apa yang dikuasakan Allah kepadaku adalah lebih baik [daripada bayaran itu]”. (QS Al-Kahfi: 95).

Zulqarnain tidak hanya memberi bantuan gratis, tapi juga melibatkan penduduk setempat dalam proyek berteknologi tinggi yang dibangunnya. Artinya, ada upaya pengalihan teknologi dan peningkatan kemampuan masyarakat terbelakang tanpa pamrih apa pun. Simaklah arahan-arahan Zulqarnain berikut, “Maka bantulah aku dengan kekuatan [manusia dan alat-alat], agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, berkatalah Zulqarnain, "Tiuplah [api itu]”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi [merah seperti] api, diapun berkata, "Berilah aku tembaga [yang mendidih] agar aku tuangkan ke atas besi panas itu." (QS Al-Kahfi: 95-96).

Demikianlah keteladanan yang diberikan penguasa adidaya yang saleh. Kekuasaan tidak menjadi alat keegoan negara maju untuk tetap tampil sebagai ‘negara besar’, melainkan amanah peradaban yang harus berubah menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sumber: Kolom Ibroh, Majalah Islam Sabili No. 18 TH.XVI Maret 2009

Interaksi Bersama Non-Muslim

SESUNGGUHNYA ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA DARIPADA PELBAGAI BANGSA , KAUM, PUAK DAN SUKU UNTUK SALING MENGENALI ANTARA SATU SAMA LAIN.

Oleh sebab itu, Islam tidak menegah umatnya berbuat baik kepada golongan non-Muslim untuk memberikan penerangan berkenaan Islam dan seterusnya untuk menarik mereka mendekati Islam.Ketika hayat baginda, antara amalan yang dilakukan oleh baginda adalah:
1. Menziarahi Jiran yang Sakit
2. Membalas Ucapan Yang Kesat dengan Ucapan Yang Baik
3.Berdiri Menghormati Jenazah


MENDAPATKAN BANTUAN NON-MUSLIM DALAM MISI PENTING

Kisah 1: Rasulullah s.a.w dan Abdullah bin Uraiqit
ketika misi hijrah ke Madinah, baginda s.a.w. meminta bantuan seorang Yahudi yang mempunyai kemahiran tinggi dalam selok-belok jalan yang selamat boleh dilalui(jalan yang pendek bukan jalan biasa yang dilalui oleh kebanyakan orang) tetapi sukar dikesan jejaknya.Orang yang dimaksudkan ialah Abdullah bin Uraiqit

Kisah 2: Rasulullah s.a.w dan Safwan bin Umayyah
menurut Anas bin Malik, Safwan bin Umayyah (pada ketika itu belum memeluk Islam) pernah berperang bersama nabi dalam peperangan Hunain di mana beliau telah meminjamkan baju besi kepada Rasulullah s.a.w (Riwayat Abu Daud no.8562)

Kisah 3: Rasulullah s.a.w dan pembesar negara yang berlainan agama
Rasulullah s.a.w pernah mengutuskan Hatib bin Abi Balta'ah al-Lakhmi untuk menyampaikan surat kepada Maharaja al-Muqauqis, Raja Iskandariah dan Maharaja Qibti supaya menerima Islam sebagai satu cara hidup. Walaupun tidak memeluk Islam, baginda tidak pula menolak beberapa hadiah yang diberikan oleh mereka. (Ibn Kathir, al-Bidayah Wa al-Nihayah, jilid 5, hlm.340)

Pengajaran:
- tiada masalah orang Islam bersahabat dengan non-Muslim dan mendapatkan bantuan daripada mereka namun dengan beberapa syarat:
untuk membangunkan negara dan masyarakat
untuk kebaikan semua pihak Muslim dan non-Muslim
tidak melibatkan aqidah (simbol agama masing-masing)
non-muslim mesti berniat baik terhadap Islam sekiranya mahu menghulurkan bantuan
-mendapatkan pandangan
orang Islam boleh saling memberi dan menerima hadiah daripada non-Muslim
perpaduan adalah agenda utama dalam Islam

Kesimpulan
Rasulullah mengambil pendekatan yang diplomatik ketika berurusan dengan non-Muslim. Melalui sirah jujungan mulia ini kita sebagai umatnya seharusnya mencontohi akhlak baik yang telah ditunjukkan oleh nabi s.a.w.Interaksi yang baik akan mendekatkan mereka kepada islam seterusnya mereka akan beroleh hidayah untuk memeluk Islam. Negara Islam yang makmur dan bersatu padu akan dapat diwujudkan seperti zaman kegemilangan Islam suatu ketika dahulu. Islam itu adalah sebaik-baik agama yang memberikan keselamatan dan ketenangan kepada setiap penganutnya kerana Indah Islam Di Mata Dunia.Islam merentasi sempadan dan waktu.

~ artikel yang diolah daripada Majalah Solusi

17 Ramadhan 2 Peristiwa Berlaku


“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeza (antara yang haq dan yang bathil)” [TMQ al-Baqarah
(2):185].

Wahai kaum Muslimin! Daulah Khilafah telah dihancurkan pada 3 Mac 1924. Sejak saat itu, hukum Allah tidak lagi
diterapkan di muka bumi, sebaliknya diganti dengan hukum kufur penjajah. Sejak saat itulah manusia telah tidak
berhukum dengan apa yang Allah telah turunkan, sebaliknya menggantikannya dengan hukum-hakam buatan tangan
manusia. Al-Qur’an bukan setakat diambil acuh tak acuh, malah ditinggalkan terus dan lebih buruk, dipertikaikan
kesesuaian hukumnya. Hukum Al-Qur’an telah lenyap seiring dengan lenyapnya Daulah Khilafah. Tanpa ada sebuah
negara, mustahil semua ayat Al-Qur’an dapat diterapkan. Benarlah kata Imam Al-Ghazali, “Agama adalah asas dan
kekuasaan (negara) adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada asasnya akan rapuh; sesuatu yang tidak ada
penjaganya, akan hilang.”

Memang benar bahawa setiap Muslim sepatutnya memperingati tarikh penurunan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan
sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa
Sallam untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an adalah petunjuk (huda) dan pembeza (furqân).

Adakah Al-Qur’an Sekadar Untuk Diperingati dan
Dibaca?
Sempena Nuzul Al-Qur’an ini, marilah kita dengan penuh
iman dan taqwa memuhasabah diri kita, apakah kita selama
ini telah mengambil Al-Qur’an sebagaimana yang Allah
perintahkan, atau selama ini kita hanya beriman dengan
sebahagian dari Al-Qur’an atau justru telah mengabaikan
Al-Qur’an? Apakah selama ini Al-Qur’an telah benar-benar
kita jadikan petunjuk, sumber hukum, sekaligus sebagai
penyelesai segala masalah kehidupan kita? Ataukah
sebaliknya, kita malah meninggalkan dan
mencampakkannya?
Kebanyakan kita berusaha menjaga fizik Al-Qur’an. Kita
tidak akan meletakkan Al-Qur’an di lantai atau di kerusi
atau lain-lain tempat yang kita rasakan tidak sesuai. Kita
akan marah jika mendapati sesiapa sahaja yang tidak
‘menjaga’ Al-Qur’an. Kita turut sensitif dan merasa amat
marah apabila mendengar dan melihat Al-Qur’an dipijak,
dibakar atau dibuang di dalam tandas. Kita juga tidak akan
berdiam diri jika Al-Qur’an dihina, diremeh atau
dipermainkan di dalam apa bentuk sekalipun. Kita memang
akan menjaga kemurnian Al-Qur’an dari segala bentuk
penodaan dan pemalsuan. Segala usaha ini sangat baik
dan memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kita yang
harus kita tunaikan. Namun, kita sering hanya berhenti
sebatas ini sahaja. Umat Islam berusaha untuk menjaga
fizik Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha untuk memahami isi
kandungannya dan menerapkan hukum-hakamnya. Umat
Islam marah apabila Al-Qur’an dihina, tetapi mereka sendiri
‘menghina’ Al-Qur’an dengan tidak mengamalkan hukumhukum
yang terdapat di dalamnya. Umat Islam sakit hati
apabila Al-Qur’an dikatakan telah ketinggalan zaman,
tetapi mereka sendiri telah berzaman meninggalkan ajaran Al-Qur’an.

Beberapa Kekeliruan Lain Terhadap Al-Quran
“Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara;
jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka
kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, iaitu
Kitabullah dan Sunnah NabiNya” [HR Muslim].
Sebahagian lain kaum Muslimin tidak mengambil A-Qur’an
sebagai petunjuk, tetapi menjadikan al-Quran sebagai
sebuah ‘kitab mistik’. Al-Quran disimpan baik-baik di
rumah dan hanya digunakan untuk hal-hal yang
berunsurkan mistik misalnya menjadikannya sebagai
azimat, tangkal, pelaris, penolak bala, pengusir syaitan
dan sebagainya. Malangnya Al-Quran tidak dijadikan
sebagai ’pengusir’ pelbagai macam sistem kufur yang
diterapkan di tengah-tengah umat saat ini seperti
Sekularisme, Kapitalisme, Liberalisme, Demokrasi, Hak
Asasi Manusia dan lain-lain lagi. Mereka lebih suka
mengambil Al-Qur’an sebagai sebuah ‘kitab magik’ yang
boleh menguntungkan jualan, memurahkan rezeki,
berubat, menghalau hantu dan pelbagai ‘kepentingan
peribadi’ lainnya daripada mengambil A-Qur’an sebagai
kitabullah yang mengandungi syariat yang wajib
diterapkan ke atas umat manusia keseluruhannya serta
membawa rahmat ke seluruh penjuru alam.

Kembali Kepada Al-Qur’an Dengan Cara Yang Benar
Wahai kaum Muslimin! Marilah kita akhiri sikap yang tidak
sepatutnya terhadap Al-Qur’an. Kuburkanlah segala
kesalahfahaman kita tentang Al-Qur’an. Mari kita jadikan
Ramadhan dan Nuzul Qur’an ini sebagai momentum untuk
kembali kepada fahaman yang benar terhadap Al-Qur’an.
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk
meneguhkan tekad kita untuk senantiasa memuhasabah
diri kita dengan Al-Qur’an; membaca, memahami dan
menghayati maknanya; mengamalkan isi kandungannya;
serta menjadikannya sebagai sumber hukum untuk
mengatur segala urusan kehidupan kita dan sumber
penyelesaian atas seluruh masalah kita; seterusnya
menerapkan segala isi kandungannya di dalam bentuk
per individu, bermasyarakat dan bernegara.

Di samping Nuzul Qur’an, 17 Ramadan juga adalah tarikh berlakunya peristiwa penting yang telah merubah sejarah dan nasib umat Islam iaitu Perang Badar Al-Kubra. Badar Al-Kubra telah berlaku pada pagi hari Jumaat 17 Ramadan, tahun kedua Hijrah.

Peristiwa agung ini menyaksikan peristiwa ajaib di mana tentera Muslim seramai 313 orang telah berjaya mengalahkan tentera musyrikin seramai 1000 orang. Tentera Islam yang serba kekurangan telah mengalahkan tentera Abu Jahal yang tiga kali ganda lebih ramai dan lengkap dengan kelengkapan tentera. Logik akal mungkin tidak dapat menerima bagaimana kumpulan yang lemah, malah tidak makan kerana sedang berpuasa ini boleh mengalahkan musuh mereka.

Kemenangan tentera Islam, selain daripada kebijaksanaan Rasulullah dan para sahabat merancang strategi perang, adalah kerana keyakinan dan iman mereka yang tinggi terhadap Islam dan pertolongan Allah.

Ketika menghampiri perang, Rasulullah telah berdoa kepada Allah sambil bermunajat:

“Ya Allah! Ya Tuhanku! Perkenankan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah! Ya Tuhanku! Jika jemaah Islam ini binasa, maka tidak akan ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di bumi ini.”

Doa Rasulullah kemudiannya telah dimakbulkan, sebagaimana disebut di dalam Al-Qur'an yang bermaksud:

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan kamu, lalu Allah perkenankan permohonan kamu (dengan firman-Nya): Sesungguhnya Aku akan membantu kamu dengan seribu (bala tentera) daripada malaikat yang datang berturut-turut.” Surah al-Anfal, ayat 9)

Peristiwa Badar merupakan motivasi yang amat penting bagi umat Islam. Badar Al-Kubra telah membuktikan yang golongan yang kecil dan minoriti dapat mengalahkan golongan yang besar dan kuat. Inilah motivasi utama para pejuang dan pendakwah Islam seluruh dunia dalam meneruskan tugas dakwah. Ketika umat Islam dihina dan diperlakukan semaunya di setiap pelusuk dunia, peritiwa Badar akan sentiasa menjadi ingatan dan pegangan kita. Ingatan bahawa kita bukan umat hina, kita ada Allah tempat mengadu dan kita harus terus berjuang meneruskan hidup dan berjihad untuk memartabatkan agama di muka bumi ini. Umat Islam harus terus berjihad melalui tulisan, ucapan, ekonomi, pendidikan dan segala bidang kehidupan. Kita harus berusaha bersungguh-sungguh untuk meningkatkan upaya diri dan mengangkat umat dari belenggu kejahilan dan kemaksiatan.

Badar juga telah mengajar kita bahawa bagaimana sukar sekalipun cabaran yang diterima, akhirnya kebenaran dan hak akan tetap terserlah, manakala kebatilan dan kepalsuan akan musnah ditimpa kehinaan.

Doa adalah senjata mukmin. Badar mengajar kita, selepas sempurna perancangan dan usaha, kita harus tidak jemu menadah tangan berdoa kepada Allah dalam apa jua keadaan, susah ataupun senang. Ingatlah pertolongan Allah akan datang pada hambanya yang beriman dan yakin akan Rahmat Nya.

سعود الشريم

سعود الشريم

Anak Luar Nikah ..




Sebak sedih terharu marah geram dan pelbagai-bagai lagi perasaan menyelubungi diri ini apabila melihat gambar bayi comel yang dihurungi semut di dalam dada-dada akhbar beberapa hari ini. Lebih menyesakkan dada apabila dua hari lepas dipaparkan pula kejadian dahsyat tanpa perikemanusiaan di mana seorang bayi dicampakkan ke dalam tong sampah dan dibakar di Kuala Krai, Kelantan. Kejadian ini amat kejam dan kejadian tersebut adalah kejadian keempat kes buang bayi yang dilaporkan sepanjang minggu ini sahaja

Isu buang bayi ini bukanlah isu baru, dahulu ia pernah hangat seketika kemudian kembali senyap tetapi kini semakin menjadi-jadi. Sebelum dari ini kita banyak mendengar berita beberapa kejadian dengan banyaknya penemuan bayi tidak berdosa, kebanyakannya hanya tinggal jasad, dengan litupan hanyir sampah sarap dan gigitan semut merah.

Kita membaca lagi berita mengenai dua mayat bayi ditemui di Pulau Pinang - seorang daripadanya lelaki, ditemui di depan pintu tandas wanita di tingkat satu Kompleks Tun Abdul Razak (Komtar). Mayat bayi kedua masih masih lagi berdarah, terapung di perangkap sampah dalam kolam Indah Water Konsortium (IWK), berhampiran Pusat Perniagaan Asas Murni Taman Sukun

Perangkaan ibu pejabat polis persekutuan Bukit Aman mendapati 65 kes buang bayi dicatat pada 2000 dan meningkat kepada 83 kes tahun lalu. Selangor mencatatkan angka tertinggi iaitu 22 kes (pada 2000) dan 24 kes (2006). Daripada jumlah tahun lalu, 79 kes membabitkan kes pembuangan bayi yang baru dilahirkan dan empat lagi kes pembuangan janin.Perkara ini bukanlah perkara yang boleh dibuat main-main dan ianya harus dipandang serius permasalahan ini kerana ia berkaitan dengan isu wanita dan juga keluarga.

Dalam kita membincangkan kes buang bayi ini kita tidak dapat lari dari isu anak luar nikah. Di dalam membincangkan isu anak luar nikah ini pula kita tidak dapat lari dari persoalan zina yang makin berleluasa di kalangan umat Islam kebelakangan ini. Justeru itu untuk membendung permasalahan seperti ini dari terus terusan berleluasa maka jalan yang boleh melorongkan ke arah perlakuan zina ini harus ditutup serapat-rapatnya. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah di dalam firmannya di dalam surah Al-Isra ayat 17 yang bermaksud “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”.

Ayat di atas secara jelas menyentuh tentang zina di mana umat Islam adalah dilarang melakukan zina kerana kesannya dalam masyarakat adalah amat buruk. Kesannya bukan sahaja kepada individu tersebut malahan kepada masyarakat kerana kesannya akan memberi impak kepada keturunan, malah ianya juga boleh mengundang kepada jenayah lain seperti membunuh. Ini yang berlaku hari ini di mana bayi yang lahir dari perut ibunya sanggup dibunuh dengan kejam dengan membakar bayi tersebut dengan tanpa belas kasihan bagi tujuan menghilangkan bukti kononnya secara tidak langsung ianya menggambarkan perlakuan pelakunya adalah suatu tindakan kebinatangan yang harus dibendung dengan segera. Malahan tindakan tersebut lebih buruk dari binatang kerana ada binatang yang menyayangi anak mereka.

Justeru itu tindakan yang proaktif harus di ambil oleh semua pihak kami membendung gejala ini diperingkat akar umbi. Maksud dibendung ini adalah membendung dari peringkat awal dari berlakunya jenayah ini dan bukannya mengambil tindakan yang berbentuk sementara dengan melaungkan idea agar sebuah rumah membuang bayi didirikan agar remaja yang terbabit meletakkan anak tak sah mereka di situ. Perkara ini akan mengundang ke arah tindakan negatif dan kurang berhemah kerana tindakan ini akan mengundang kepada berlakunya perzinaan kerana remaja ini tidak perlu gusar dan bimbang kerana jika perkara ini berlaku mereka ada tempat perlindungan bagi bayi-bayi yang mereka tidak inginkan kelahirannya.

Tindakan undang-undang harus diambil terhadap mereka yang terlibat dengan perzinaan ini kerana kesannya buruk sehingga mengundang kepada permasalahan buang bayi ini. Secara normalnya pasangan suami isteri yang mempunyai ikatan yang sah tidak akan membuang bayi mereka. Tindakan membuang bayi ini adalah hasil dari hubungan oleh pasangan yang tidak mempunyai hubungan perkahwinan yang sah justeru melahirkan anak dengan tanpa mereka inginkan anak tersebut. Akibatnya bayi tersebut dibunuh semata-mata bagi menutup aib mereka di mana di sini dua perlakuan dosa besar dilakukan oleh mereka iaitu berzina dan membunuh.

Di Negara kita perlakuan tentang kesalahan zina ini adalah terbatas. Oleh kerana keterbatasan pelaksanaan hukum syarak dalam ruang lingkup negara Malaysia maka kesalahan zina lebih dikenali dengan persetubuhan luar nikah dalam Akta Kesalahan Jenayah Syariah Wilayah-Wilayah Persekutuan 1997 di dalam Seksyen 23 manakala di Selangor pula di dalam Enakmen Jenayah Syariah (Selangor) 1995

Peruntukan di dalam Akta tersebut memperuntukan sekiranya

Mana-mana orang lelaki atau perempuan melakukan persetubuhan dengan orang perempuan atau lelaki yang bukan isterinya atau suaminya yang sah adalah melakukan suatu kesalahan dan apabila disabitkan boleh didenda tidak melebihi rm 5000 atau dipenjarakan selama tempoh tidak melebihi 3 tahun atau disebat tidak melebihi 6 kali sebatan atau dihukum bagi mana-mana kombinasi hukuam itu.

Selain itu juga peruntukan tersebut menyebut bahawa seorang perempuan melahirkan anak yang sempurna sifat dalam tempoh yang kurang daripada enam bulan qamariah dari tarikh pernikahannya atau hamil luar nikah akibat persetubuhan yang direlakan dan tahu kesalahan yang sedang dilakukannya maka kedua-dua keadaan tersebut telah mencapai tahap prima facie yang disabitkan Mahkamah Syariah boleh didenda tidak melebihi lima ribu ringgit atau dipenjarakan selama tempoh tidak melebihi tiga tahun atau disebat tidak melebihi enam sebatan atau mana-mana kombinasi hukuman-hukuman itu.

Sewajarnya disebabkan perlakuan zina ini memberi kesan yang buruk pada masyarakat maka hukuman yang berat serta setimpal wajar dikenakan terhadap perlakunya samada lelaki atau wanita agar permasalahan yang timbul kesan dari perlakuan tersebut seperti masalah buang bayi ini tidak akan timbul pada masa-masa akan datang. Peruntukan undang-undang terhadap hukuman terhadap pesalah zina ini harus dipinda dan dikaji dengan memberikan hukuman yang berat agar permasalahan seumpama ini dapat dibendung selain kita membendung dari peringkat awal

Selain membendung dari sudut undang-undang ibu bapa juga berperanan untuk menjadi ibubapa yang baik dan bertanggungjawab agar anak dapat dididik dengan baik. tanamkan nilai keagamaan dari kecil lagi. Tetapi ingat Jangan memaksa anak-anak remaja kerana desakan anda akan menolak mereka kepada teman yang lebih rapat. Mereka boleh terjerumus jika teman yang dipilih salah. Ibu bapa adalah orang terbaik untuk memberi pendidikan seks kepada remaja. Jika ibu bapa tidak melakukannya, mereka akan mencari ilmu ini dari kawan di internet. pasti perkara buruk berlaku.

Selain peranan ibu bapa bagi meyelesaikan kemelut ini remaja, media massa, masyarakat dan juga kerajaan berperanan untuk menyelesaikan masalah ini selain daripada penyelesaian melalui undang-undang. Undang-undang adalah suatu bentuk sekatan untuk tujuan mendidik tetapi nilai agama adalah penting dalam diri untuk menjauhi segala perlakuan buruk terutamanya perzinaan. Tanpa perzinaan tiada kes buang bayi.

Disediakan oleh.

Mohamad Isa bin Abd Ralip

Presiden PGSM

~Sumber Persatuan Peguam Syarie Malaysia

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan



Inilah lagu kenangan yang dinyanyikan oleh Almarhum Ustaz Asri Ibarahim..Original suara..Paling best penasyid ..

Muhasabah Ramadhan




Ya Allah berilah kesempatan kepada kami untuk berada dalam bulan mulia ini,
Ya Allah berilah kepada kami segala keberkatan dalam bulan yang mulia ini,
Ya Allah terimalah amalan kami, permudahkan kami untuk beramal
Ya Allah baiki akhlak dan sikap kami agar terhias pada diri kami akhlak Islam

Ya Allah terimalah amalan kami yang kerdil dan bergelumang dengan dosa ini.
Ampunkanlah kami sebagaimana Engkau mengampunkan umat terdahulu.
Sesungguhnya kami sangat bergembira dengan kedatangan Ramadhan ini.
Kami sedar sabda RasulMu bahawa mereka yang gembira menyambut Ramadhan,
Engkau haramkan dari api neraka.Oleh itu kami memohon sepenuh hati
semoga kami juga Engkau jauhkan dari azab neraka
Amin.....

Kisah Imam Muda..




MUHAMMAD Asyraf Mohd Ridzuan (kiri) dinobatkan juara Imam Muda pada pertandingan akhir di Dewan Muktamar, Kompleks Pusat Islam, Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI). Tempat kedua,Hizbur Rahman Omar Zuhd


Asyraf Imam Muda
Oleh Zaidi Mohamad
bhnews@bharian.com.my
2010/07/31

Graduan Usuluddin dan Fikah UM juara Imam Muda

KUALA LUMPUR: Rezeki menyebelahi Muhammad Asyraf Mohd Ridzuan, 26, apabila dinobatkan juara Imam Muda pada pertandingan akhir di Dewan Muktamar, Kompleks Pusat Islam, Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI), di sini, malam tadi.

Graduan Usuluddin dan Fikah Universiti Malaya (UM) itu menewaskan Hizbur Rahman Omar Zuhdi, 27, untuk merebut gelaran pertama Imam Muda. Dengan kemenangan itu, Muhammad Asyraf menerima insentif berbentuk tawaran sebagai Imam Ratib (kontrak) di salah sebuah masjid di Wilayah Persekutuan.

Selain itu, Muhammad Asyraf juga menerima biasiswa pakej Berlian pengajian ke Universiti Antarabangsa Al Madinah (MEDIU), sebuah kereta Proton model Exora, pakej menunaikan ibadat haji, pakej umrah, pakej percutian ke Bandung selama empat hari dan tiga malam serta pakej perabot jati bernilai RM10,000.

Hadiah lain yang mengiringi kejayaannya ialah pakej spa Maghribi untuk seorang, wang tunai RM20,000, sebuah komputer riba Apple Macbook Pro, sebuah iPhone 3G, trofi Imam Muda serta sijil penyertaan dan kad pentauliahan diiktiraf JAWI.

Muhammad Asyraf ketika berucap sebaik menerima hadiah kemenangan mengucapkan terima kasih kepada isteri, ibu bapa, rakan-rakan dan penyokong yang mendoakan kejayaannya.

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak pengurusan Astro, guru-guru, JAWI dan tenaga pengajar yang tidak kedekut ilmu, mursyid (mentor), mudir (pengetua), penonton dan wartawan yang menyebar luas (program Imam Muda).

“Hanya Allah SWT membalas jasa dan semoga kita bertemu pada program Imam Muda tahun depan,” katanya yang pernah berkongsi misinya mengubah persepsi masyarakat yang menganggap kerjaya imam hanya tertumpu di masjid dan majlis tertentu saja, sedangkan ia lebih meluas.

Naib juara, Hizbur Rahman pula membawa pulang biasiswa pakej Emas pengajian ke MEDIU, wang tunai RM15,000, trofi Imam Muda, iPhone, komputer riba, sijil penyertaan, kad pentauliahan diiktiraf JAWI dan beberapa hadiah menarik lain.

Turut diumumkan sebagai kejutan ialah hadiah tawaran biasiswa pakej Perak melanjutkan pengajian ke MEDIU kepada lapan peserta Imam Muda lain. Mereka turut menerima pakej percutian ke Bandung, sebuah Iphone, trofi dan sijil penyertaan.

Lapan peserta yang dimaksudkan itu ialah Sharafuddin Suaut, Ahmad Syakir Zamri, Amiril Md Banin, Nik Muhammad Adib Md Amin, Muhammad Khairul Azhar Ghazali, Nuri Ali Arbain, Ahmad Hazran Ahmad Kamal dan Mohd Taufek Mohd.

Bagi cabaran akhir, Muhammad Asyraf dan Hizbur Rahman dikehendaki menyampaikan tazkirah, mengaji Al-Quran secara bertaranum, menyanyikan lagu zikir dan menjawab soalan berkisar hukum agama Islam secara spontan.

Segala aspek pemarkahan dan penilaian diadili Tuan Pengetua yang juga bekas Imam Besar Masjid Negara, Datuk Hasan Mahmud Al Hafiz. Beliau dibantu dua Mentor, Shahrizan Daud dan Syed Norhisyam Al Idrus, manakala Dzulkarnain Hamzah pula sebagai hos.

Imam Muda yang disiarkan Astro Oasis selama 10 minggu mencipta fenomena tersendiri biarpun kali pertama diterbitkan. Program realiti ini juga mencatat sejarah kerana mendapat liputan media antarabangsa.

INFO

Finalis Imam Muda

Nama Penuh: Muhammad Asyraf Mohd Ridzuan, 26
Asal: Pulau Pinang
Tarikh Lahir: 12 Februari 1984
Bangsa: Melayu
Status: Berkahwin
Pekerjaan: Imam
Nama Isteri: Nurhusna Yusof, 23
Pendidikan: Ijazah Sarjana Muda Usuluddin dan Fikah, Universiti Malaya
Menyambung pengajian di peringkat Ijazah Sarjana Syariah di UM

Nama Penuh: Hizbur Rahman Omar Zuhdi, 27
Asal: Baling, Kedah
Tarikh Lahir: 1 April 1983
Bangsa: Melayu
Status: Berkahwin
Pekerjaan: Guru Tahfiz
Pendidikan: Sarjana Muda Syariah (Tahun Akhir), Universiti Al-Azhar, Mesir
Nama Isteri: Liliyana Hasanah Yudi, 23

Dunia Zaman Sekarang




Coretan nie hanyalah `pENdaPaT' (tuan yg tulis coretan ini)...terpulang la kpd sesiapa yg membaca nyer...nak setuju ke x,terpulanglah...kalo rase x setuju atau rs semacam jerk tentang coretan yg ditulis nie...harap bg pandangan...da tugas kiter sesama islam kena bg nasihat sesama kiter..kena mengingati sesama sendiri...kepade sesiape yg terasa harap maaf la...bukannyer nk kutuk ke aper...nk marah pun takpe... Pada pendapat (tuan yg tulis coretan ini) la dunia nie dah teruk sangat dah...petanda hari kiamat pun dah nampak...tp kiter yg islam nie masih macam tu gak...tak berubah-ubah....yg x nk g solat nyer,yg suke judi(main no ekor),yg suke buat perkara sumbang dan mcm-mcm lagi lah...ishhxx...insaflah...yg dah tua pun same...ajal mungkin da dekat pun masih x nk insaf lg...bak kata pengacara edisi siasat ntv 7...aper kejadah nyer semua ini!!!yg mude pun same...jgn kater kiter nie muda,kita nie lambat lg nk meninggalkn dunie yg penuh keseronokan nie...kiter nie da la peminjam...telinga,mata,senang kater semua bahagian badan nie kiter pinjam...

Dulu maser (tuan yg tulis coretan ini) belajar agama kt sek rendah,ustazah (tuan yg tulis coretan ini) ader cakap..kiter sebelum lahir kt dunie nie kt da berjanji dkt ALLah yg kiter dah berjanji akn buat segala yg disuruh dan tinggalkn larangan nyer...biler kiter lahir kiter dah luper tentang janji tu...yelah baru je lahir, sape pun x ingat...sekarang nie dunie dah dalam kedahsyatan yg amat sgt...nk tau kenaper?ader jugak yg sanggup main-main agama...(tuan yg tulis coretan ini) x kisah kalau agama lain..nie da la memesongakn agama Islam...pandai2 sendiri wat hukum!anak saper la nie...sekarang nie banyak gak ajaran sesat yg ader...yg ikut 2 bukannyer calang-calang org...da lah ader ijazah,pangkat doktor pun ader...nie aper citer?gune la otak sikit,just dgr bute2 jerk...kalu raser x betul cari la buku hadis ke,tanyer pendapat org lain ker..nie x,dgr jerk org tu bace ayat Al-Quran, dah percaye...ei vome on la...penat2 je belajar tinggi2...

nie yg remaja lak lg satu...yg rempit nyer,yg minum arak,yg suker wat seks nyer,buang anak nyer lg...Please...kiter hidup x lama....paling tinggi pun dlm 60-70 thn kiter hidup...kalu raser umur 50 tahun nk bertaubat,luper kn jerk. maser mude2 nie la kiter sepatutnyer kutip pahala...tenaga pun ader..bile dah tua nnt,selalu sakit kn susah...(tuan yg tulis coretan ini) bkn bermaksud biler dah buat amal maser muda,lepas tua nnt boleh enjoy... Semua org tau bumi nie dah lamer,dah tua pun,usia pun dah berjuta-juta tahun,..kiter lak yg x tau bersyukur sanggup jerk merosakkn bumi...aper x nyer yg tebang pokok sana sini,perang nyer lg...sian la sikit kat bumi...dah lamer die manahan karenah manusia yg wat dosa sewenang-wenangnyer....

sekarang nie macam-macam bende pelik berlaku kat dunia nie..tsunami,banjir besar yg berlaku kt negara kiter malaysia,salji turun lebat kt jpn dan macam-macam lagi la...kalu nk tulis satu-satu bende pelik yg berlaku kt dunie nie..wah letih dibuatnyer...klau nk tau cr sendiri lagi bagus....dunie sekarang nie nk kejar kemewahan jerk....yelah semua org tau nilai kalu ader duit banyak-banyak..boleh beli macam-macam....bende yg kiter nampak nilai...pahala takde saper pun yg nampak nilai nyer.....kalu dapat pahala byk2,akan dapat ganjaran...tp ganjarn 2 kiter x tau nilainyer.. kalaulah AllAh bagi kita nmpk mcm maner nilai pahala,semua org berebut nak kut...

(tuan yg tulis coretan ini) raser elok kiter anggapkn pahala 2 mcm cr duit....kepada pemimpin-pemimpin jangan la terima rasuah...rakyat penat-penat jerk undi...patut nyer tunjuk la contoh teladan...kite kalau nk maju bkn dr segi bangunan jerk,lahiriah pun kena la maju..kiter nie org islam...sbg contoh la katakan ibnu sina,ibnu khaldun,diorg ni da la bijak malah dr segi lahiriah pun bagus...BANGUN nyer satu-satu tamadun tu ade lah dari segi zahiriah dan rohaniah...bukannyer maju dr segi teknologi semata-mata tp budi pekerti juga kenalah jugak...(tuan yg tulis coretan ini) bukannyer nk kutuk saper2 tp tulah hakikat nyer zaman sakarang...tiade niat nk kutuk,ini adalh nasihat lebih bagus kalu dipanggil pandangan (tuan yg tulis coretan ini)...

(tuan yg tulis coretan ini) bukan nk kutuk pemimpin yg amik rasuah, cumer mengharapkn dieorg nie menjalankn tanggungjawab yg diamanahkn jerk...(tuan yg tulis coretan ini) sygkn negara,bangsa,dan agama..kalau terasa (tuan yg tulis coretan ini) mintak maaf la banyak2 dr hujung rambut sampai hujung kaki...akhir kater sayangi lah dunia nie dan insaflah.... (coretan ini hanyalah pandangan sipenulis semata-mata mungkin ada kaitan yg masih hidup ataupun yg telah meninggal dunia...hak cerita adalah terpelihara..)
assalamualaikum...

Daripada petikan kisah teladan I Love Islam

Nisfu Sya'ban

Assalaamu’alaikum w.b.t….. Sebagaimana telah kita ketahui apabila tibanya malam 15 Sya’aban, ramai yang akan ke masjid untuk solat jemaah dan membaca yasin sebanyak 3 kali. Tetapi tahukah kita dari mana amalan itu berasal? Sedangkan kita tahu, bahawa sesuatu ibadah khusus yang dilakukan jika tiada amalan atau dalil dari nabi Muhammad S.a.w maka dikira bid’ah.

Persoalannya mengapa perlu dilakukan sebanyak 3 kali dan dikhususkan pada malam tersebut? Sedangkan bacaan Yasin boleh dilakukan pada bila-bila masa dan tidak terhad kepada berapa kali.
Seperti yang selalu saya lihat, bacaan Yasin yang dibuat sebanyak 3 kali itu dilakukan dengan pantas dan terkejar-kejar.

Mungkin ianya sesuai dengan orang yang sudah mahir membaca Qasar, tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak mahir dengan bacaan Qasar lebih-lebih lagi bagi yang tidak mahir membaca AlQuran bertajwid. Tidakkah itu sudah menjadi tunggang-langgang dan tidak berlaku dalam keadaan yang tenang.

Apakah bagus membaca AlQuran dalam keadaan tergesa-gesa dan salah tajwidnya? Apakah hikmah di sebalik tergesa-gesa dan tidak faham apa yang dibaca itu?
Sebenarnya tiada hadith yang sahih yang memberitahu tentang bacaan yasin 3 kali pada malam nisfu Syaaban ini dan jika ada pun, ianya adalah hadith berkenaan kelebihan malam nisfu Syaaban yang dhaif dan juga terdapat dalam hadith maudhu’ (palsu).

Walau bagaimanapun ada sebahagian ulama berpendapat hadis dhaif boleh dipegang dalam amalan sunat secara perseorangan. Tetapi tidak sekali-kali dengan hadith maudhu’. Ingat, hadith maudhu’ maknanya hadith PALSU, dan hadith PALSU hanyalah hadith yang direka-reka oleh golongan tertentu.

Dengan kerana itu, adalah penting agar kita berhati-hati dalam memahami martabat sesuatu hadith itu.Namun , dalam soal bacaan Yasin sebanyak 3 kali dalam nisfu Syaaban tetap tidak ada hadith yang sahih berkenaannya dan amalan tersebut tiada ditunjukkan contoh langsung oleh nabi dan sahabat.

Maka mengapa kita sekarang ini mengadakan majlis tersebut di masjid-masjid apabila tibanya malam nisfu Syaaban sahaja? Mengapa perlu menetapkan malam itu untuk membaca Yasin 3 kali dan berduyun-duyun menuju ke masjid sedangkan malam lain tidak? Itu yang perlu diperhati bersama.

Dan saya tidak berani mengatakan amalan tersebut haram. tetapi kita perlu ingat, amalan ibadah khusus yang bukannya berasal dari nabi sudah dikira bid’ah dan dibimbangi amalan itu akan menjadi penat dan lelah semata-mata kerana tidak berasas atau menambah dosa sahaja.

Tetapi menurut fatwa dari Syeikh Abdul Aziz bin Baaz, amalan itu dikira bid’ah dan penjelasannya ada saya sertakan di bawah nanti.Maka sebaiknya adalah kita lakukan sahaja amalan membaca Yasin atau apa-apa sahaja bacaan AlQuran , tanpa perlu dikhususkan 3 kali dan seumpamanya.

Dan yang penting, bacaan itu biarlah TERTIB, TENANG dan memberi keinsafan kepada kita dan bukannya semata-mata mahu mengejar pahala sehingga membaca AlQuran dengan tergopoh dan salah tajwid dan mengatakan sepatutnya melakukan bacaan Yasin 3 kali itu.


Pengertian nisfu Syaaban
Nisfu dalam bahasa arab bererti setengah. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban. Malam Nisfu Syaaban adalah malam lima-belas Syaaban iaitu siangnya empat-belas haribulan Syaaban.
Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul qadr.

Saiyidatina Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw tidak tidur pada malam itu sebagaimana yg tersebut dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi r.a:
Rasulullah saw telah bangun pada malam (Nisfu Syaaban) dan bersembahyang dan sungguh lama sujudnya sehingga aku fikir beliau telah wafat.

Apabila aku melihat demikian aku mencuit ibu jari kaki Baginda saw dan bergerak. Kemudian aku kembali dan aku dengar Baginda saw berkata dlm sujudnya, “Ya Allah aku pohonkan kemaafanMu daripada apa yg akan diturunkan dan aku pohonkan keredhaanMu daripada kemurkaanMu dan aku berlindung kpdMu daripadaMu. Aku tidak dpt menghitung pujian terhadapMu seperti kamu memuji diriMu sendiri.”

Setelah Baginda saw selesai sembahyang, Baginda berkata kpd Saiyidatina Aisyah r.a. “Malam ini adalan malam Nisfu syaaban. Sesungguhnya Allah Azzawajjala telah dtg kpd hambanya pada malam Nisfu syaaban dan memberi keampunan kpd mereka yg beristighfar, memberi rahmat ke atas mereka yg memberi rahmat dan melambatkan rahmat dan keampunan terhadap orang2 yg dengki.”

Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Sya’aban bermula pada 14 hb sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib)

Fatwa tentang merayakan malam Nisfu Syaaban
Bacaan yasin
Umat Islam di Malaysia umumnya menyambut malam nisfu Syaaban ( 15hb Syaaban) dengan mengadakan majlis membaca surah Yasin sebanyak tiga kali selepas solat Maghrib. Di celah-celah bacaan Yasin ini diselitkan dengan bacaan doa seperti , selepas bacaan Yasin pertama dengan doa untuk diselamatkan dunia akhirat, selepas bacaan Yasin kedua doa supaya dipanjangkan umur dalam keberkatan dan selepas bacaan Yasin ketiga doa supaya dianugerahkan rezeki yang halal.

Diperhatikan bahawa amalan sambutan Nisfu Syaaban yang kaifiatnya sebegini tidak diamalkan di tempat lain di seluruh dunia. Tidak hairanlah tiada fatwa yang dikeluarkan oleh Ulama muktabar dunia masa kini tentang sahih batilnya amalan ini.

Kita beramal dan beribadat adalah untuk mendapat pahala dan kebaikan . Amalan ini hendaklah ada contohnya dari Rasulullah s.a.w. atau sahabat-sahabat atau ada petunjuk yang jelas dari al-Quran dan as-sunnah . Amalan mengkhususkan bacaan dan doa tertentu pada sesuatu masa tanpa nas yang sahih adalah amalan bidaah yang tertolak dan dikhuatiri berdosa;

setidak-tidaknya ia akan membazirkan masa dan memenatkan badan.
Kita boleh membaca surah Yasin sebanyak mungkin pada bila-bila masa untuk mendapat pahala tetapi tidak dengan mengkhususkan kepada malam nisfu Syabaan dan dengan bilangan tiga kali.



Kita digalakkan berdoa apa saja kepada Allah s.w.t untuk kebaikan dunia dan di akhirat tetapi tidak perlu dikhususkan di celah-celah bacaan Yasin di malam nisfu Syaaban. Dan kita boleh membaca surah Yasin dan berdoa bersendirian, di mana-mana dan bila-bila saja dan tidak perlu berkampung di masjid-masjid dengan harapan mendapat ganjaran istimewa dari Allah s.w.t.


Berikut adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama terkemuka di Timur Tengah untuk menjelaskan tentang amalan bidaah di malam nisfu Syaaban. Perhatikan bahawa beliau tidak menyebut amalan membaca Yasin dan doa-doa yang mengiringinya kerana amalan tersebut tidak diamalkan oleh penduduk di Timur Tengah atau di bahagian lain dunia Islam.

Boleh dikatakan bahawa amalan baca Yasin dan doa ini adalah sebahagian dari sekian banyak amalan bidaah ciptaan rakyat tempatan khusus untuk amalan penduduk nusantara ini!
‘Solat Sunat’ Nisfu Syaaban

Firman Allah (mafhumnya): “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.” [al-Maa’idah 5:3]. “Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menentukan mana-mana bahagian dari agama mereka sebarang undang-undang yang tidak diizinkan oleh Allah?” [al-Syura 42:21]

Dalam kitab al-Sahihain diriwayatkan daripada `Aisyah (r.a) bahawa Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda: “barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kita ini yang mana bukan sebahagian daripadanya, akan tertolak.”

Dalam Sahih Muslim diriwayatkan daripada Jabir r.a, Nabi (s.a.w) bersabda dalam khutbah Baginda: “Tetaplah kamu dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidun, serta berpegang teguhlah padanya… Berwaspadalah terhadap perkara yang baru diada-adakan, kerana setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap perkara bid’ah itu adalah sesat.” Terdapat banyak lagi ayat Qur’an dan hadis yang seumpamanya.

Ini jelas sekali menunjukkan bahawa Allah telah sempurnakan agama umat ini, dan mencukupkan nikmatNya ke atas mereka. Tuhan tidak mengambil nyawa RasulNya sehinggalah Baginda selesai menyampaikan perutusan dengan seterang-terangnya dan menghuraikan kepada ummah segala apa yang telah diperintahkan Allah samada amalan perbuatan mahupun percakapan.

Baginda s.a.w telah menerangkan bahawa untuk ibadah yang direka selepas kewafatan Baginda, segala bacaan dan amalan yang kononnya dilakukan menurut Islam, kesemua ini akan dicampakkan kembali kepada orang yang mencipta amalan tersebut, meskipun ia berniat baik.

Para Sahabat Nabi s.a.w tahu tentang hakikat ini, begitu juga para salaf selepas mereka. Mereka mengecam bid’ah dan menegahnya, sebagaimana telah dicatatkan dalam kitab-kitab yang menyanjung Sunnah dan mengecam bid’ah, ditulis oleh bin Waddah, al-Tartushi, bin Shamah dan lain-lain.

Antara amalan bid’ah yang direka manusia ialah menyambut hari pertengahan dalam bulan Syaaban (Nisfu Syaaban), dan menganjurkan puasa pada hari tersebut. Tidak ada nas (dalil) yang boleh dipercayai tentang puasa ini. Ada beberapa hadis dhaif telah dirujuk tentang fadhilat puasa ini, tetapi ianya tidak boleh dijadikan pegangan.
Hadis-hadis diriwayatkan mengenai fadhilat doa sempena nisfu Syaaban kesemuanya adalah maudhu’ (rekaan semata-mata), sebagaimana telah diperjelaskan oleh sebahagian besar alim ulama. Kita akan lihat beberapa petikan dari ulasan para alim ulama ini.

Beberapa riwayat tentang hal ini telah dinukilkan daripada sebahagian ulama salaf di Syria dan lain-lain. Menurut jumhur ulama, menyambut nisfu Syaaban adalah bid’ah, dan hadis-hadis tentang fadhilat-fadhilat berkenaan hari tersebut adalah dhaif (lemah), sebahagian besar yang lain pula adalah maudhu’ (rekaan).

Antara ulama yang memperjelaskan hal ini adalah al-Haafiz bin Rejab, di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif, dan lain-lain. Hadis-hadis dha`if berkenaan ibadah hanya boleh diterimapakai untuk amalan ibadat yang terdapat menerusi nas-nas yang Sahih. Tidak ada asas yang Sahih bagi sambutan nisfu Syaaban, oleh itu hadis-hadis dha`if tersebut tidak dapat digunapakai.

Prinsip asas yang penting ini telah disebutkan oleh Imam Abu’l-‘Abbas Sheikh al-Islam bin Taymiyah (rahimahullah). Para alim ulama (rahimahumullah) telah sepakat bahawa apabila wujud perselisihan di kalangan umat, maka wajiblah merujuk kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Apa-apa keputusan yang diperolehi daripada salah satu atau kedua-duanya adalah syariat yang wajib ditaati, sebaliknya apa-apa yang didapati bercanggah dengan kedua-duanya mestilah ditolak.

Oleh itu sebarang amalan ibadat yang tidak dinyatakan di dalam kedua-dua (Qur’an dan Sunnah) adalah bid’ah dan tidak dibenarkan melakukannya, apatah lagi mengajak orang lain melakukannya atau mengiktirafkannya.

Sebagaimana Firman Allah (mafhumnya): “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu.

Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.” [al-Nisa’ 4:59]

“Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): Apa jua perkara agama yang kamu berselisihan padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah; Hakim yang demikian kekuasaanNya ialah Allah Tuhanku; kepadaNyalah aku berserah diri dan kepadaNyalah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan).”[al-Shura 42:10].

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” [Aal ‘Imr.an 3:31]

“Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.” [al-Nisa’ 4:65]

Banyak lagi ayat-ayat lain yang serupa maksudnya seperti di atas, yang menyatakan dengan jelas bahawa sebarang perselisihan wajib dirujuk kepada Qur’an dan Sunnah, seterusnya wajib mentaati keputusan yang diperolehi daripada kedua-dua Nas ini.
Ini merupakan syarat iman, dan inilah yang terbaik untuk manusia di dunia dan di akhirat: “Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya” [al-Nisa’ 4:59 – mafhumnya] maksudnya ialah Hari Akhirat.

Al-Hafiz bin Rejab (R.A) menyebut di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif tentang isu ini – setelah membincangkannya secara panjang lebar – “Malam Nisfu Syaaban asalnya diutamakan oleh golongan Tabi’in di kalangan penduduk Sham, antaranya Khalid bin Mi’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir dan lain-lain, di mana mereka beribadah bersungguh-sungguh pada malam tersebut.

Orang awam menganggap bahawa malam tersebut adalah mulia kerana perbuatan mereka ini. Disebutkan bahawa mereka telah mendengar riwayat-riwayat Israiliyyat berkenaan kelebihan malam tersebut, sedangkan jumhur ulama di Hijaz menolak kesahihan riwayat ini, antara mereka adalah ‘Ata’ dan Ibnu Abi Malikah. ‘Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan fatwa ini daripada fuqaha’ (Ulama Ahli Fiqh) di Madinah, dan inilah pandangan ulama-ulama Maliki dan lain-lain. Kata mereka: semua ini adalah bid’ah…

Imam Ahmad tidak pernah diketahui menyebut apa-apa pun tentang (adanya sambutan) Malam Nisfu Syaaban… Tentang amalan berdoa sepanjang Malam Nisfu Syaaban, tidak ada riwayat yang sahih daripada Nabi (s.a.w) ataupun daripada Para Sahabat Baginda …”

Inilah apa yang telah disebutkan oleh al-Hafiz bin Rejab (R.A). Beliau menyatakan dengan jelas bahawa tidak ada langsung riwayat sahih daripada Rasulullah s.a.w mahupun daripada Sahabat-sahabat Baginda (R.A) mengenai Malam Nisfu Shaaban (pertengahan bulan Syaaban).

Dalam keadaan di mana tidak ada bukti shar’i bahawa apa-apa perkara itu disuruh oleh Islam, tidak dibenarkan bagi Umat Islam untuk mereka-reka perkara baru dalam agama Allah, tidak kiralah ianya amalan perseorangan ataupun berkumpulan, samada dilakukan secara terbuka mahupun tertutup, berdasarkan maksud umum hadith Rasulullah s.a.w: “Barangsiapa melakukan apa sahaja amalan yang bukan sebahagian daripada urusan kita ini [Islam], amalan itu akan tertolak.

” Banyak lagi dalil yang menegaskan bahawa bid’ah mesti ditegah dan memerintahkan agar menjauhinya.Imam Abu Bakr al-Tartushi (R.A) menyebut dalam kitabnya al-Hawadith wa’l-Bida’: “Ibn Waddah meriwayatkan bahawa Zayd bin Aslam berkata: Kami tidak pernah menemui seorang pun dari kalangan ulama dan and fuqaha’ kami yang memberi perhatian lebih kepada Malam Nisfu Shaaban, tidak ada juga yang memberi perhatian kepada hadith Makhul, atau yang beranggapan bahawa malam tersebut adalah lebih istimewa daripada malam-malam lain.

Pernah ada orang mengadu kepada Ibnu Abi Maleekah bahawa Ziyad an-Numairi mengatakan bahawa pahala di Malam Nisfu Shaaban adalah menyamai pahala Lailatul-Qadar. Beliau menjawab, “Sekiranya aku dengar sendiri dia berkata begitu dan ada kayu di tanganku, pasti aku akan memukulnya (dengan kayu itu). Ziyad seorang pereka cerita.”


Al-Shaukani (R.A) berkata dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah: “Hadith yang berbunyi: ‘Wahai ‘Ali, barangsiapa bersolat seratus rakaat di Malam Nisfu Shaaban, dengan membaca pada setiap rakaat Ummul Kitab [Surah al-Fatihah] dan Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali, Allah akan memenuhi segala keperluannya…’ Hadis ini maudhu’ (rekaan semata-mata).



Susunan katanya menyebut dengan jelas ganjaran yang akan diterima oleh orang yang melakukannya, dan tidak ada orang yang waras yang boleh meragui bahawa ‘hadis’ ini adalah rekaan. Lebih-lebih lagi, perawi dalam isnad hadis ini adalah majhul (tidak dikenali). ‘Hadis’ ini juga diriwayatkan melalui sanad yang lain, yang mana kesemua adalah direka dan kesemua perawinya adalah are majhul (tidak diketahui asal-usulnya).


Di dalam kitab al-Mukhtasar, beliau menukilkan: Hadith yang menyebut tentang solat di tengah bulan Syaaban adalah hadis palsu, dan hadis Ali yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban – “ Apabila tiba malam pertengahan Syaaban, penuhilah malamnya dengan solat dan berpuasalah di siang harinya” – adalah dhaif (lemah).


Di dalam kitab al-La’aali’ beliau berkata, “Seratus rakaat di pertengahan Syaaban, membaca (Surah) al-Ikhlas sepuluh kali di setiap rakaat… (hadis ini) adalah maudhu’ (direka), dan kesemua perawi dalam tiga isnadnya adalah majhul (tidak dikenali) dan dhaif (lemah). Katanya lagi: dan dua belas rakaat, membaca al-Ikhlaas tiga puluh kali setiap rakaat, ini juga adalah maudhu’; dan empat belas (rakaat), juga adalah maudhu’.

Beberapa orang fuqaha’ telah tertipu oleh hadis palsu ini, antaranya pengarang al-Ihya’ dan lain-lain, dan juga sebahagian ulama mufassirin. Solat khusus di malam ini – di pertengahan bulan Syaaban – telah diterangkan dalam pelbagai bentuk, kesemuanya adalah palsu dan direka-reka.”
Al-Hafiz al-‘Iraqi berkata: “Hadith tentang solat di malam pertengahan Syaaban adalah maudhu’, dan disandarkan secara palsu terhadap Rasulullah s.a.w.”


Imam al-Nawawi berkata di dalam bukunya al-Majmu’: “Sembahyang yang dikenali sebagai solat al-raghaa’ib, didirikan sebanyak dua belas rakaat antara Maghrib dan ‘Isyak pada malam Jumaat pertama di bulan Rejab, dan sembahyang sunat Malam Nisfu Shaaban, sebanyak seratus rakaat – kedua-dua sembahyang ini adalah bid’ah yang tercela.

Sepatutnya orang ramai tidak tertipu disebabkan ianya disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya’ ‘Ulum al-Din, atau oleh hadis-hadis yang disebutkan dalam kedua-dua kitab ini. Kesemuanya adalah palsu. Orang ramai juga tidak sepatutnya tertipu disebabkan kerana beberapa imam telah keliru dalam hal ini dan menulis beberapa helaian yang menyebut bahawa sembahyang ini adalah mustahabb (sunat), kerana dalam hal ini mereka tersilap.”


Sheikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abd al-Rahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis sebuah kitab yang amat berharga, yang membuktikan bahawa riwayat-riwayat tersebut adalah palsu, dan jasa beliau sangatlah besar. Alim `ulama telah membincangkan hal ini dengan panjang lebar, dan sekiranya kami ingin memetik keseluruhan perbincangan tersebut untuk dicatatkan di sini, tentu akan mengambil masa yang sangat panjang. Mudah-mudahan apa yang telah disebutkan di atas sudah memadai bagi anda yang mencari kebenaran.


Daripada ayat-ayat Qur’an, hadis-hadis dan pendapat ulama yang dipetik di atas, sudah jelas bagi kita bahawa menyambut pertengahan bulan Syaaban dengan cara bersembahyang di malamnya atau dengan mana-mana cara yang lain, atau dengan mengkhususkan puasa pada hari tersebut, adalah bid’ah yang ditolak oleh jumhur ulama.

Amalan tersebut tiada asas dalam syariat Islam yang tulen; bahkan ianya hanyalah salah satu perkara yang diada-adakan dalam Islam selepas berakhirnya zaman Sahabat (radhiallahu `anhum).
Amat memadai, dalam hal ini, untuk kita fahami kalam Allah (mafhumnya):


“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kamu untukmu..…”[al-Ma’idah 5:3]. dan beberapa ayat yang seumpamanya; dan kata-kata Nabi s.a.w: “Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kita ini yang (pada hakikatnya) bukan sebahagian daripadanya, tidak akan diterima” dan beberapa hadis yang serupa.


Dalam Sahih Muslim diriwayatkan bahawa Abu Hurarah (R.A) berkata: “Rasulullah s.a.w bersabda: ‘Janganlah kamu khususkan malam Jumaat untuk bersembahyang malam dan janganlah khususkan siang hari Jumaat untuk berpuasa, melainkan jika puasa di hari itu adalah sebahagian daripada puasa-puasa yang kamu amalkan berterusan-berterusan.’”


Seandainya dibenarkan untuk mengkhususkan mana-mana malam untuk amalan ibadah yang istimewa, sudah tentu malam Jumaat adalah yang paling sesuai, kerana siang hari Jumaat adalah hari yang paling baik bermula terbit mataharinya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Sahih yang diriwayatkan daripada Rasulullah s.a.w.

Memandangkan Nabi Muhammad s.a.w sendiri melarang dari mengkhususkan malam tersebut untuk bertahajjud, itu menandakan bahawa adalah lebih dilarang sekiranya dikhususkan malam-malam lain untuk sebarang bentuk ibadat, kecuali di mana terdapat nas yang Sahih yang mengkhususkan malam tertentu.


Oleh kerana telah disyariatkan untuk memenuhi malam Lailatul-Qadr dan malam-malam lain di bulan Ramadhan dengan bersolat, Rasulullah s.a.w memberi perhatian kepadanya dan menyuruh umatnya bersolat malam sepanjang tempoh tersebut. Baginda sendiri melaksanakannya, sebagaimana disebut dalam al-Sahihain, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Barangsiapa bersolat qiyam di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, Allah akan ampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”

dan “Barangsiapa memenuhi malam Lailatul Qadr dengan bersolat (sunat) disebabkan iman dan mencari pahala, Allah ampunkan kesemua dosanya yang telah lalu.”


Akan tetapi sekiranya disyariatkan untuk mengkhususkan malam pertengahan bulan Syaaban, atau malam Jumaat pertama di bulan Rejab, atau di malam Isra’ dan Mi’raj, dengan meraikannya ataupun dengan melakukan amalan ibadat yang khusus, maka sudah tentu Rasulullah s.a.w telah mengajar umatnya melakukannya, dan Baginda sendiri melakukannya.

Jika pernah berlaku sedemikian, para Sahabat Baginda (R.A) pasti akan memperturunkan amalan amalan tersebut kepada umat terkemudian; tidak mungkin mereka menyembunyikan amalan daripada umat terkemudian, kerana mereka adalah generasi yang terbaik dan yang paling amanah selepas Rasulullah, radhiallahu `anhum, dan semoga Allah merahmati kesemua sahabat Rasulullah s.a.w.
Sekarang kita telah membaca sendiri kata-kata ulama yang dipetik di atas bahawa tidak ada riwayat daripada Rasulullah s.a.w mahupun Para Sahabat (R.A) berkenaan kelebihan malam Jumaat pertama bulan Rejab, atau malam pertengahan bulan Syaaban.

Maka kita tahu bahawa menyambut hari tersebut adalah satu perkara baru yang dimasukkan ke dalam Islam, dan mengkhususkan waktu-waktu ini untuk amalan ibadat tertentu adalah bid’ah yang tercela.


Samalah juga dengan sambutan malam ke dua puluh tujuh bulan Rejab, yang mana disangkakan oleh sesetengah orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj; tidak dibenarkan mengkhususkan hari tersebut untuk amalan tertentu, atau meraikan tarikh tersebut, berdasarkan dalil yang dipetik di atas.

Ini sekiranya tarikh sebenar Isra’ and Mi’raj telah diketahui, maka bagaimana sekiranya pandangan ulama yang benar adalah tarikh sebanar Isra’ and Mi’raj tidak diketahui! Pandangan yang mengatakan ianya berlaku pada malam ke dua puluh tujuh di bulan Rejab adalah riwayat yang palsu yang tiada asas dalam hadis-hadis sahih.

Baik sekiranya seseorang itu berkata: “Perkara paling baik adalah yang mengikut jalan para salaf, dan perkara paling buruk adalah perkara yang diada-adakan.”
Kita memohon agar Allah membantu kita dan seluruh umat Islam untuk berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi segala yang bertentangan dengannya,

kerana Dialah yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Semoga Allah merahmati Pesuruh dan UtusanNya, Nabi kita Muhammad s.a.w, serta kesemua ahli keluarga dan Para Sahabat baginda.
Ulasan dan terjemahan fatwa : www.darulkautsar.com
[Dipetik daripada Majmu’ Fatawa Samahat al-Sheikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baz, 2/882]